Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Sejak zaman dahulu, pertarungan bahkan perang antara komunitas suku adat budaya terus terjadi. Ada yang menang dan ada yang kalah, lalu terjadi berbagai konsekuensi. Dalam perang fisik antara suku, biasanya memperebutkan wilayah kekuasaan atas komunitas suku lain dan sumber daya alamnya. Ketika menang perang, suku yang dikalahkan jadi bawahan atau jajahan suku yang menang. Sumber daya alam milik suku yang kalah biasanya diambil alih oleh pihak yang menang.
Ketika ada kerajaan, dengan wilayah kekuasaan yang lebih luas, juga terjadi pertarungan budaya dan ekonomi, serta perang untuk saling mengalahkan. Baik di luar negeri, maupun di Nusantara, sejarah mencatat adanya perang antar kerajaan di tingkat lokal maupun dengan kerajaan yang dari luar tanah air. Kerajaan ternyata tidak abadi kuasanya, hanya segelintir yang tersisa sekarang. Yang lain sudah hilang tergilas zaman, menyisakan serpihan puing.
Ketika ada sistem kekuasaan modern dalam bentuk negara, ternyata pertempuran dan perang terjadi juga. Ada yang mempunyai sekutu dalam pertarungan tersebut. Kisah perang dunia I dan II menjadi pelajaran berharga, dan masih berpengaruh hingga zaman ini. Terakhir masih terlihat ketika terjadi perang Rusia dan Ukraina, dan perang antar suku dan kelompok bersenjata di Afrika serta Timur Tengah. Di balik perang tersebut rupanya salah satu pendorongnya adalah soal kepemilikan dan pengelolaan sumber daya alam, dalam konteks kepentingan ekonomi dan pengaruh politik.
Pada era digital milenial, yang paling sengit perangnya adalah soal bisnis informasi dan perdagangan aneka kebutuhan. Dari beragam iklan yang ada di medsos, semua kebutuhan ditawarkan dengan pesona gemerlap promosinya. Sistem bisnis online berkembang pesat dan juga pembayaran dengan uang digital. Maka, bukan lagi antar negara bertempur, tetapi antar produsen berperang memperebutkan konsumen dari aneka produk kebutuhan.
Dalam pertempuran dan perang milenial ini, terlihat pertarungan hal tradisi dan modern, konteks budaya lisan dan tertulis, budaya lokal dan digital, hal yang bersifat status quo dan kreasi digital milenial, yang pintar dan terkebelakang, yang jujur dan licik, serta yang kampung dan internasional.
Dalam pertarungan kepentingan itu, ada yang bersekutu karena memiliki kepentingan sama, ada yang jadi musuh karena masih sama kuat, serta ada yang kalah dan dijajah. Pertarungan antar lokal sedang beralih kepada pertarungan power antara pemilik IPTEK dan modal dengan masyarakat konsumen yang terbatas kapasitas tawarnya dalam semua aspek. Hidup adalah sebuah pertempuran untuk saling memenangkan kepentingan dan kebutuhan.

