Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Pesta, kenduri atau perayaan dalam kehidupan adalah satu fakta dalam kehidupan sehari-hari. Pesta terjadi di kampung hingga di kota, dalam perjalanan sejarah manusia. Ada banyak alasan terjadinya pesta di kampung. Ada alasan adat budaya, perayaan daur hidup (kelahiran, turun tanah, cukur rambut, perkawinan, syukur panen, dll). Juga keperluan modern seperti ulang tahun, perayaan keagamaan, dan urusan politik.
Selain ritual, doa dan perjamuan makan minum, ada juga musik dan tarian sebagai ekspresi kegembiraan perayaan dimaksud. Musik tradisi biasanya disesuaikan dengan jenis hajatan, perayaan pesta terkait.
Zaman now, ada juga musik modern dengan soundsystem yang istimewa atau musik dengan penyanyinya (musik band). Apakah itu milik dari tuan pesta atau disewa dari pihak tertentu yang profesional.
Dengan kemajuan sarana teknologi, selain ada musik band, musik yang diputar dari komputer atau gadget, ada juga musik dari hadirin pesta yang bernyanyi karaoke.
Setiap pemilik pesta dan konteks kampung adat tradisi memiliki warna-warni cerita tentang musik di pesta. Hal ini sangat berkaitan dengan kepentingan pemilik pesta dan dinamika komunitas di setiap kampung adat tradisi.
Hemat saya, musik di tempat pesta kampung menjadi sebuah ekspresi diri tuan pesta. Ada kerinduan menyatakan siapa dirinya dengan pesta dan sajian musik tersebut. Pesta tanpa musik, sepertinya ada yang kurang lengkap. Jika di kota besar ada musik jalanan, bar dan diskotik, maka di kampung adat tradisi zaman now, ada beragam musik saat pesta. Bahkan ada fenomena milenial saat pesta di kampung, bahwa suasana di diskotik dan bar kota besar, juga dihadirkan di sana. Ada lampu disko, asap mengepul, dan soundsystem canggih yang menggetarkan tanah. Waktunya hingga larut malam, bahkan sampai pagi. Musik di pesta kampung juga menjadi indikasi perubahan selera, kepentingan dan nilai serta prinsip dalam kehidupan individu maupun komunitas adat budaya di kampung tradisi.
Inilah dinamika budaya dan gelombang perubahan zaman.

