Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Di tempat asal saya, kampung disebut Natar. Nama ini dimaknai dalam pemahaman lokal antara lain tumpah darah, tanah lahir, di mana setiap anak generasi terkait dengan orangtua dan leluhur sukunya serta sejarah alam lingkungannya.
Natar Tana mungkin sepadan dengan kata kampung halaman. Sebuah kata yang bisa juga mengingatkan sejarah panjang dan identitas pribadi, dari mana asal usulnya. Setiap komunitas adat budaya di Nusantara ini memiliki nama lokal masing-masing untuk kampung halamannya.
Saat belajar dan kemudian membaca, saya ingat cerita tentang komunitas kuno di Yunani, yang disebut Polis. Disebutkan, bahwa dalam Polis itulah ada kebiasaan berdiskusi, dan terlahir banyak filsuf. Bedanya dengan Natar, bahwa ada banyak warisan sastra dan kearifan lokal. Jika dibanding dengan pemikiran para filsuf Yunani, sungguh hebat dan istimewa. Tapi tidak ada nama filsufnya, cuma selalu disebut dari leluhur dan sejak dahulu kala.
Dalam perkembangan modernisasi, lahirlah model pemukiman baru yang dikenal dengan Kota. Di sana ada banyak profesi baru, yang berbeda dengan petani dan nelayan di Kampung – Natar. Model kehidupan pun berbeda, karena industri dan jasa menjadi warna utama kehidupan. Dengan adanya sarana modern seperti listrik, media komunikasi dan transportasi, maka kehidupan berjalan hampir 24 jam demi memenuhi hukum produksi industri. Banyak juga masyarakat kampung bermigrasi ke kota demi mendapat pekerjaan dan perubahan kehidupan.
Negara adalah sistem pemerintahan modern yang ikut melahirkan banyak kota, dan sangat berpengaruh mengubah wajah kampung. Mungkin bisa disebutkan bahwa modernisasi dengan industri telah menciptakan negara untuk kepentingan bisnis dan kekuasaan. Demi kepentingan bisnis dan menguasai sumber daya alam serta pasar, maka negara diciptakan. Argumentasinya adalah demi pembangunan kesejahteraan rakyat.
Sistem pemerintahan adat budaya di kampung, pernah berubah menjadi wilayah kerajaan, lalu daerah jajahan berbagai bangsa dan sekarang menjadi Negara.
Perkembangan peradaban di setiap komunitas kampung adat budaya, telah mencatat sejarah panjang dengan berbagai perubahan dan segala dampaknya, positif dan negatif. Kita yang hidup di zaman digital Milenial, dapat banyak pelajaran sejarah untuk hidup saat ini, lalu membuat pilihan dan keputusan demi kehidupan sekarang, dan pada gilirannya menjadi sejarah generasi masa depan.

