Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Ada fenomena zaman now, para wisatawan meminati kampung adat sebagai tujuan kunjungan mereka. Ada kampung adat yang bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Tapi ada juga yang perlu ditempuh dengan berjalan kaki, karena masih terpencil dan belum tersedia jalan dan jembatan.
Wisatawan ingin melihat dan mengalami keunikan kehidupan komunitas adat budaya lokal di kampung. Ada banyak kampung adat yang masih terawat dan dihidupi nilai lokalnya, namun banyak juga yang sudah berubah dan tersisa puing. Misalnya tempat ritual, rumah adat, dan unsur budaya lainnya.
Yang sering disajikan kepada wisatawan adalah atraksi kesenian dan suvenir dari kerajinan komunitas adat, di mana sanggar seni budaya jadi salah satu agen perannya.
Sejauh pengamatan saya, ada perbedaan di komunitas adat budaya Bali, Batak dan Toraja, dengan komunitas kampung adat di daerah lainnya. Berdasarkan kesaksian sejumlah wisatawan, bahwa di Bali, Batak dan Toraja, mereka datang ke kampung adat dan mengalami kehidupan adat budaya yang masih dijaga. Anggota komunitas menghidupi adat dan menjaga kampung adat, bukan untuk kepentingan menarik kunjungan para wisatawan. Tapi, karena mereka membutuhkannya sebagai identitas kehidupan utuh. Adat budaya dijaga dan dihidupi. Sedangkan banyak kampung adat lainnya di luar Bali, Batak dan Toraja, sejumlah unsur adat budaya memang ditampilkan untuk para wisatawan, tapi belum tentu digunakan untuk kehidupan rutin dalam komunitas.
Perbedaan ini berkaitan dengan banyak faktor internal setiap komunitas adat di kampung masing-masing. Ada yang mungkin kurang diperlukan lagi, atau ada sebab-sebab lain yang mempengaruhi. Sedangkan berkenaan dengan soal pariwisata, memang ada banyak hal teknis yang perlu diperhatikan. Misalnya soal kesiapan komunitas kampung adat sebagai obyek dan destinasi bagi wisatawan. Ada lagi soal kapasitas profesi para pelaku wisata.
Dinamika ini menarik, karena pada hakikatnya pariwisata selalu mempertemukan aneka pribadi dengan latar belakang adat budaya masing-masing. Pertemuan itu berhubungan dengan beragam kepentingan dan pasti saling mempengaruhi.
Seperti apakah kesiapan dan ketahanan komunitas pemilik kampung adat dalam menerima kedatangan para wisatawan?
Apakah ada relasi kesetaraan dan saling berbagi manfaat, atau sebaliknya komunitas kampung adat hanya menjadi obyek dari kegiatan pariwisata?
Banyak pelajaran dari pengalaman yang sudah ada, dan bisa jadi guru kehidupan, apalagi sekarang dipermudah dengan sarana informasi digital.

