Oleh : Simply da Flores
| Red-Joss.com | Populasi manusia meledak dan terus bertambah, tapi sumber daya alam terbatas dan semakin berkurang. Demi kebutuhan hidup manusia yang semakin banyak itu sumber daya alam digunakan secara brutal untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan manusia. Akibatnya semakin banyak masalah lingkungan.
Lahan untuk membangun hunian yang padat, maupun wilayah hutan dan areal pertanian pun berkurang; baik di kampung maupun di kota-kota.
Dalam konteks pembangunan oleh negara, pengadaan aneka sarana publik, juga menggunakan lahan serta berbagai material alam lainnya. Kegiatan bisnis, seperti pembangunan kawasan pemukiman, pembukaan perkebunan dan eksplorasi bahan tambang, jelas mempunyai dampak tersendiri yang masif terhadap alam lingkungan. Misalnya, saat eksploitasi untuk penambangan dan pabrik industri, maka banyak lahan hutan digunakan, juga untuk penyediaan pemukiman ribuan karyawan, serta fasilitas umum pendukungnya. Saat yang sama ada pembuangan limbah tambang dan industri, akibatnya ada polusi air dan laut, juga polusi udara, serta sampah plastik.
Selain polusi udara, air dan laut dengan limbah industri, limbah nuklir dan mercuri, sampah plastik telah menjadi masalah serius lingkungan. Hingga saat ini, di kota-kota sampai kampung udik dan daerah terpencil semakin dibanjiri sampah plastik. Pemanasan global pun meningkat karena menipisnya lapisan ozon. Belum ada solusi yang memadai dan efektif, baik karena beda kapasitas kesadaran individu, maupun sumber sampah tak berhenti.
Menarik ungkapan seorang tokoh adat budaya dari Indian, bahwa mungkin manusia baru sadar akan ketergantungan pada alam lingkungan dan mau bertanggungjawab, jika nanti pohon terakhir ditebang, mata air bersih terakhir kering, udara bersih terakhir dihirup, makanan terakhir dari kebun didapat, dan bumi penuh sampah serta aneka zat beracun.
Jadi, semua kembali pada pribadi masing-masing, akan hal nyata yang bisa dibuat untuk menjaga lingkungan bersih serta lestari itu perlu dimulai dari rumah dan tempat di mana kita berada. Tidak mengurangi masalah, jika hanya bicara di media sosial dan mempersalahkan orang lain, atau menuntut lembaga pemerintah dan para pengusaha serta pelaku eksploitasi alam lingkungan. Di atas segalanya, alam semesta dan Pencita mempunyai hukum sendiri, berhadapan dengan perilaku manusia sepanjang zaman.

