Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Menjelang pemilu 2024, para caleg dari berbagai parpol peserta pemilu saling adu strategi demi meraih suara para pemilih. Salah satu bentuk pendekatan adalah melalui relasi keluarga dan adat budaya. Ada acara kumpul keluarga untuk memperkenalkan diri, juga ritual adat budaya, serta keterlibatan tokoh adat budaya di kampung-kampung, maupun di kota. Para caleg mulai merujuk relasi kekerabatan dari asal usul orangtuanya, juga keluarga suami atau istrinya.
Dalam model pendekatan adat budaya ini, ada satu fakta menarik. Ternyata di antara para caleg, entah dari satu parpol maupun berbeda, ada hubungan kekeluargaan dan kekerabatan yang sama dari komunitas adat budaya yang sama. Maka, model pendekatan ini mulai terjadi pergesekan kepentingan, baik antara caleg maupun di tengah komunitas. Bahkan ada relasi yang sangat dekat sebagai kakak adik atau saudara-saudari dari orangtua yang sama, namun berbeda parpol. Selain itu, ada yang satu keluarga, orangtua dan anak menjadi caleg dari parpol yang sama, di wilayah dapil berbeda atau tingkatan pemilihan berbeda. Ada yang Bapaknya caleg DPR RI, Ibunya caleg propinsi, dan anaknya calon DPD di daerah pemilihan yang sama.
Fenomena ini menarik, bahwa para calon memiliki minat yang istimewa untuk jabatan publik dan pasti mempunyai biaya politik untuk menggalang suara. Entah seperti apa tanggapan masyarakat pemilih, akan kelihatan pada kenyataan di TPS nanti. Namun usaha nyata sedang dilakukan oleh para caleg, termasuk dengan pendekatan keluarga dan adat budaya. Pasti masih ada aneka pendekatan lainnya, apalagi oleh caleg yang sudah pernah menjadi legislatif.
Di berbagai komunitas adat budaya yang tersebar di tanah air, ada dinamika dan konteks yang khas. Mungkin ada yang mempunyai strategi tertentu dalam mensikapi berbagai kehadiran caleg datang di rumah keluarga, suku dan komunitas adat budaya. Dari pantauan sementara, ada juga persoalan yang timbul dalam keluarga dan komunitas. Siapa yang harus dipilih, dan apa alasannya selain relasi keluarga dengan caleg. Ini berarti peran media informasi sudah menjadi salah satu sarana pendukung mencerdaskan para pemilih untuk memahami tupoksi seorang legislatif. Maka kapasitas para caleg pun menjadi pertaruhan dalam proses menjaring suara dukungan. Dengan demikian peluang meraih kemenangan terjadi dan kursi jabatan bisa didapat. Kembali lagi, kata menang menjadi sumber energi dan tujuan, demi aneka kepentingan.
Selain untuk kepentingan politik, pendekatan budaya sendiri menggugat eksestensi komunitas adat budaya. Kebudayaan memang dinamis sesuai hakikat manusia. Lalu, tantangannya bagi komunitas adat budaya adalah seberapa penting dan bermanfaat adat budaya bagi kehidupannya di zaman digital milenial ini. Hemat saya, jawaban terhadap manfaat adat budaya kembali kepada komunitas pemiliknya masing-masing. Apakah masih dibutuhkan karena berfungsi, atau perlu transformasi bahkan bisa ditinggalkan. Manusia bertambah, alam lingkungan tidak bertambah, tetapi kebutuhan terus berjalan dan berubah. Ketahanan sebuah tradisi adat budaya tergantung pada komunitas pemiliknya, apakah masih bermanfaatย danย dibutuhkan.
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

