Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Kemajuan zaman dengan sarana komunikasi digital telah mendukung spontanitas orang menyatakan pendapat. Terlebih jika ada informasi tentang masalah dan kekurangan orang lain. Apalagi jika yang diberitakan itu pejabat publik, politisi atau tokoh agama dan artis. Ada sebuah kecenderungan untuk mengadili dan memberi penilaian negatif. Padahal, data tentang persoalannya mungkin tidak diketahui secara lengkap dan obyektif. Terindikasi bahwa komentar spontan itu berdasarkan selera dan hanya atas dasar komentar orang lain, bukan karena memahami data lengkap dan obyektif dari orang dan persoalan yang dikomentari.
Dalam spontanitas komentar dan mengadili tersebut, banyak terlihat dengan pilihan kata yang kurang sopan, bahkan ada juga dengan caci maki. Jika ditanggapi pihak terkait, lalu akan berkepanjangan debat dan saling menjelekkan, bahkan melibatkan latar belakang yang bernuansa sara.
Sering terjadi, masalah ditanggapi dengan masalah, lalu menghasilkan deretan masalah baru. Tata krama, etika, nilai adat budaya dan harkat martabat sesama manusia semakin diabaikan. Yang menonjol adalah emosi dengan menunjukkan kekuatan debat kusir dan konflik, bahkan kekerasan dan perang. Hal tersebut, tidak saja terjadi dengan menggunakan media sosial, namun juga ada kekerasan fisik pribadi, kelompok serta sara.
Dalam konteks politik menjelang pemilu 2024, sudah mulai terjadi upaya saling menjelekkan dan mengadili, serta ada kampanye hitam, โblack campaignโ. Para caleg dan tim pendukungnya mulai melancarkan sebaran informasi negatif dari lawan politik demi meraih kemenangan. Apakah nanti semakin bertambah menjelang hari pemilihan di TPS? Semua kemungkinan bisa terjadi dalam politik. Salah satu penyebabnya adalah kata menang, meraih banyak suara agar memenangkan pemilihan dan meraih kursi jabatan politik.
Kondisi banjir informasi langsung maupun melalui media sosial, ternyata tidak selalu berbarengan dengan kemampuan setiap pribadi mencerna informasi, serta kemampuan cerdas untuk mempertimbangkan sikap dan keputusan memberi reaksi. Sering terjadi adalah spontanitas menanggapi, bahkan mempersalahkan dan mengadili orang lain. Apakah berkaitan dengan kasus politik, korupsi, penyalahgunaan kewenangan jabatan, ekonomi, moral atau hal agama.
Ada indikasi di media sosial dan kehidupan bermasyarakat zaman kini, yaitu amat mudah dan spontan membuat komentar, lalu gampang mempersalahkan orang lain. Sepertinya lebih banyak orang yang berminat tentang hal yang bersifat negatif, konflik serta isu sara. Kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual memang semakin jarang dan mahal. Mungkin karena kuatnya budaya instan dan egoistik hedonisme. Idealnya, hak berbicara dan kemudahan menyatakan pendapat, kiranya dibarengi dengan kecerdasan multi aspek dan motivasi untuk kebaikan bersama, sesuai harkat martabat luhur pribadi kita sebagaiย sesamaย manusia.
…
Foto Ilustrasi: Istmewa

