Oleh Simply da Flores
| Red-Joss,com | Dalam rangka meraih kemenangan politik, baik untuk jabatan eksekutif maupun legislatif, salah satu pendekatan adalah mendatangi para tokoh adat budaya. Ada tokoh adat budaya dan tokoh agama di kampung asal, dan ada juga di wilayah lainnya. Selain untuk bersilahturahmi, ada juga meminta didoakan kesuksesan dengan ritual adat budaya lokal serta doa secara keagamaan. Satu permohonan saja yakni mendapat dukungan suara yang melimpah dan menang, sehingga jabatan politik bisa diraih. Fakta ini mengingat, bahwa relasi adat budaya dan agama untuk pemilih tradisional, masih sangat berpengaruh di berbagai daerah di tanah air.
Berkenaan dengan hal ritual adat budaya dan agama tersebut, ada fakta menarik. Calon eksekutif, apalagi calon legislatif di wilayah adat budaya sering terjadi lebih dari satu. Khusus untuk calon legislatif pada pemilu 2024, dengan parpol lebih dari 10, maka terjadi dalam satu rumpun keluarga, suku dan wilayah kampung adat serta komunitas agama, ada lebih dari 5 calon. Bahkan dalam satu rumpun suku – rumah adat, ada lebih dari lima calon. Kemudian, semua calon itu meminta ritual adat pada pemangku adat yang sama, dengan permohonan yang sama pula. Hal demikian terjadi juga di lingkungan komunitas agama dengan tokoh agama yang sama.
Fakta dan fenomena ini, berkaitan dengan harapan pada masyarakat calon pemilih, yang adalah anggota komunitas adat dan atau komunitas agama tersebut. Karena sulit menolak dengan berbagai pertimbangan, maka biasanya dilayani untuk ritual adat dan atau doa oleh tokoh agama. Saat pelaksanaan ritual adat pasti ada anggota komunitas adat budaya yang hadir, juga umat dari agama yang bersangkutan. Lalu, muncul beberapa pertanyaan berikut. Doa caleg siapa yang akan dikabulkan para leluhur dan penguasa alam semesta. Doa siapa yang diberkati dan dijawab Tuhan. Para pemangku adat dan pelaksana ritual mendukung caleg yang mana? Tokoh agama mendukung siapa sebenarnya?
Pertanyaan tersebut berkaitan dengan tekad dan keyakinan menang dari para caleg yang meminta ritual serta doa tersebut. Mereka juga membiayai ritual tersebut, bahkan ada yang memberi sumbangan demi kemenangan; baik bagi para tokoh adat budaya maupun tokoh agama, serta dana sarana bagi kepentingan bersama komunitas adat dan agama. Misalnya sumbangan genset, kursi, pembangunan tempat ibadah, pemeliharaan rumah adat, dan hal lain.
Ketika fakta berbicara lain, ada yang menang dan banyak yang kalah, atau bahkan semua kalah, lalu muncullah berbagai reaksi. Dari pihah caleg dan calon eksekutif ada komentar yang bernada negatif dan kecurigaan. Dari pihak tokoh adat dan tokoh agama pun lain lagi tanggapannya. Apalagi dari masyarakat dan tim sukses, di mana sering terungkap melalui komen di media sosial. Apa pun kondisinya, ternyata sudah sekian kali hajatan politik yang saya ikuti, ternyata ritual adat budaya dan doa para tokoh agama masih digunakan sebagai sebuah bentuk pendekatan politisi untuk meraih kemenangan. Para politisi paling tahu seperti apa strategi meraih kemenangan politik.
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

