Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Sebelum datangnya agama ke Nusantara ini, aneka adat budaya sudah mengakar dalam kehidupan di kampung-kampung. Aneka aspek dihidupi sebagai warisan para leluhur dan menjadi warna-warni keanekaragaman suku bangsa Nusantara.
Ketika agama dibawa masuk ke Nusantara, maka ada dinamika perjumpaan baru. Pertemuan organisasi dan ajaran agama dengan organisasi adat budaya dan semua nilainya, Ternyata ada titik temu dan menjadi warna indah di kampung-kampung Nusantara. Seperti pelangi, menjadi indah karena perpaduan warna berbeda, dllukis oleh Sang Pencipta. Maka hingga saat ini, ada warna indah pelangi relasi adat budaya yang terus diwarisi dan dihidupi. Ungkapan Bhineka Tunggal Ika adalah penegasan atas relasi keindahan itu.
Dalam banyak acara keagamaan, selalu ada warna adat budaya lokal. Sebaliknya dalam berbagai kegiatan adat budaya, selalu ada warna agama di setiap kampung dan komunitas di Nusantara. Juga dalam acara kenegaraan, warna agama dan adat budaya pun selalu hadir; entah doa atau pun atraksi seni budaya. Itulah pelangi relasi agama dan adat budaya yang terus hidup di bumi Nusantara, indah dan penuh warna-warni.
Ada dinamika zaman yang terindikasi menjadi kabut hitam bagi pelangi relasi itu. Kabut hitam yang menutup itu bisa datang dari generasi pewaris adat budaya, bisa juga dari oknum di komunitas agama, atau dari masyarakat dunia. Kabut hitam itu membayangi wilayah kampung sampai kota . Apalagi dipermudah dengan aneka sarana komunikasi digital, sehingga hoaks, tebaran kebencian, aneka radikalisme dan terorisme menerjang setiap pribadi. Kekuatan aturan negara, nilai iman dan nilai luhur adat budaya sungguh diandalkan agar indahnya pelangi relasi kehidupan tetap terjaga serta harmoni bangsa terus kokoh di negeri Pancasila Bumi Nusantara.
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

