Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Dalam politik, segala sesuatu mungkin terjadi. Politik sering didefinisikan sebagai seni kemungkinan. Maka kemungkinan itu pun terjadi di pihak penyelenggara, parpol, politisi, caleg, pakar analisa politik dan juga rakyat pemilik hak memilih.
Tentang perubahan keputusan memilih di pihak rakyat pemegang kedaulatan, ada banyak faktor. Ada yang radikal ialah tidak mau menggunakan hak pilihnya alias golput. Alasan golput juga macam-macam, misalnya karena frustasi dengan aneka kasus kebijakan publik dan korupsi.
Ada perubahan pilihan lain yakni mengganti dukungan terhadap parpol tertentu, karena beberapa alasan pula. Sebelumnya parpol A, lalu pemilu sebelumnya parpol B, dan seksrang parpol C. Salah satunya adalah karena diajak pengurus parpolnya, sebagai keluarga dekat.
Akhirnya, ada juga perubahan pilihan terhadap figur caleg, misalnya karena relasi kekerabatan dan keluarga. Pada pemilu yang lalu, diberikan pilihan kepada si A karena kekerabatan satu kampung misalnya. Namun, saat ini berubah pilihan untuk memberikan dukungan suara, karena ada caleg dari keluarga sendiri. Maka, perubahan pilihan rakyat adalah sebuah fakta yang selalu mungkin terjadi dalam proses politik.
Bahkan sebaliknya akan mungkin terjadi, bahwa pada bagian awal proses pemilu, dia mendukung caleg keluarga. Namun, karena dalam perjalanan ada konflik kepentingan atau persoalan lain, maka ada perubahan pilihan pada hari masuk ke TPS, yakni memilih caleg yang memberikan sejumlah uang. Politik adalah seni kemungkinan, termasuk perubahan pilihan memberikan suara, dengan aneka alasan yang mungkin terjadi.
…
FotoIlustrasi: Istimewa

