Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Menghadiri prosesi kedukaan di kampung beberapa bulan terakhir, ada beberapa fenomen menarik. Ada ucapan belasungkawa dari sejumlah pejabat dan politisi, ada tebar pesona dari caleg, ada pidato politik, juga ada diskusi politik di tenda kedukaan. Momen kedukaan pun menjadi ajang perjumpaan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan politik, karena banyak pihak bertemu. Inilah warna dinamika dalam proses menuju pemilu 2024.
Dari diskusi politik itu, ada beragam topik seperti komentar spanduk caleg, soal capres-cawapres, tentang profil legislatif yang mau akhiri jabatan dan menjadi caleg lagi, banyaknya parpol peserta pemilu dan kebingungan calon pemilih karena banyak caleg yang “menyerbu” keluarga meminta dukungan suara. Bagi saya, ini adalah fakta yang lumrah karena memang tahun politik.
Ada satu hal menarik berkaitan dengan obrolan masyarakat calon pemilih tentang aneka strategi pendekatan caleg dan aneka situasi tipe pemilih. Di satu pihak, para caleg yang sudah dan sedang menjadi legislatif, sepertinya “di atas angin” dengan pola relasi yang sudah dibangun selama masa jabatan lima tahun. Mereka sudah punya peta konstituen pemilih, dan ada interaksi selama lima tahun. Berbeda dengan yang baru caleg, perlu berjuang ekstra untuk perkenalkan diri dan membangun simpati calon pemilih. Ada kompetisi dan pertarungan strategi untuk meraih kemenangan suara pemilih, sehingga bisa merebut kursi jabatan.
Waktu yang tersisa menuju pemilu 2024 menjadi warna dinamika di kampung maupun di kota, di mana kata “menang” menjadi energi dan warna yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Politik begitu besar pengaruhnya, menguras banyak sumber daya dan menagih keputusan cerdas; baik bagi para politisi maupun rakyat pemilik kedaulatan dan hak suara.
Semua hal tentang politik menjelang pemilu 2024, di mana salah satu momennya mewarnai tenda kedukaan dengan banyak fenomena, pada prinsipnya berakar pada kebijakan politik dari para legislatif dan eksekutif. Rakyat hanya menjadi pelengkap penderita, karena sudah memberikan mandat suara kepada parpol. Karena itu, tidak bisa dipungkiri fakta bahwa kekuatan peran parpol sangat besar dibanding kedaulatan rakyat pemilih. Salah satunya adalah kebijakan politik tentang parpol peserta pemilu dan aturan pemilu.
Untuk kepentingan kedaulatan rakyat dan hak memilih, kiranya ada upaya mandiri rakyat untuk meningkatkan kecerdasan politik melalui pendidikan pemilih. Jika rakyat pemilih cerdas, maka ada peluang membangun komitmen politik dengan caleg dan parpol, serta bisa memilih wakil yang dapat dipercaya. Selanjutnya bisa diharapkan ada akses dan kontrol publik terhadap penyelenggaraan negara, baik kebijakan politik yang menegakan supremasi hukum, maupun soal anggaran pembangunan. Dengan demikian upaya membangun “Demokrasi Pancasila” semakin berkembang lebih berkualitas, demi menghasilkan kesejahteraan masyarakat. Jika kecerdasan politik rakyat masih terbatas, maka dominasi parpol semakin kuat dan menguasai hak kedaulatan rakyat.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

