Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Sebuah harapan dan cita-cita mulia, di mana rakyat mampu memilih wakilnya di legislatif, dan wakilnya yang dapat dipercaya. Menarik untuk menelisik faktanya hingga kini. Wakil rakyat di tingkat Kabupaten atau Kota, Propinsi dan Pusat. Berapa banyak yang dapat dipercaya rakyat, jika tidak dikenal dengan baik dan jarang bertemu setelah sudah terpilih.
Jika diikuti prosesnya, maka calon legislatif itu ditentukan parpol, lalu diusulkan ke KPU. Setelah resmi menjadi calon tetap, maka calon legislatif dan parpolnya mulai memperkenalkan diri kepada masyarakat calon pemilih. Semua cara dan strategi ditempuh untuk mendapatkan dukungan suara pemilih.
Ketika sudah terpilih, maka sang legislator akan mulai sibuk bertugas; baik di tingkat Kabupaten / Kota, Propinsi dan Pusat. Karena tugasnya dan aneka alasan lain, sering terjadi bahwa kemungkinan perjumpaan dengan masyarakat semakin terbatas. Biasanya ada masa reses, legislator akan turun menjumpai masyarakat di daerah pemilihan masing-masing. Yang lebih sering bertemu adalah parpolnya, dibanding masyarakat umum. Ada yang mungkin menjelang pemilu berikut, baru datang lagi kepada masyarakat, karena mencalonkan lagi. Maka, soal memilih wakil rakyat yang dapat dipercaya pun masih relatif, tergantung siapa pribadi anggota legislator tersebut.
Zaman now, syukurlah ada media sosial, yang bisa memberitakan suara rakyat, sekaligus informasi tentang aktivitas para wakil rakyat yang sudah dipilih tersebut. Ada harapan bahwa media informasi digital dapat menjembatani kesulitan komunikasi antara masyarakat pemilih dan wakil rakyat yang sudah dipilih.
Lalu, peran para jurnalis dan pegiat media, diharapkan bisa menjadi penyambung komunikasi rakyat dan para wakil rakyat. Mungkin media informasi digital bisa menjadi sarana handal membuka kebuntuan komunikasi politik, serta meretas akses dan kontrol rakyat kepada para wakil rakyat yang sudah dipilih dan diberi mandat kepercayaan.
Jika seorang wakil rakyat dikenal pun terbatas saat promosi menjelang pemilu, lalu profil yang ditampilkan dalam media informasi pun hanya sebagai iklan, maka indikator untuk bisa memilih wakil rakyat yang dipercaya, menjadi tidak mudah. Pada konteks demikian, peran tim pemenang caleg menjadi “pelaku marketing” yang handal bagi seorang caleg hingga bisa menang dan terpilih. Selanjutnya, diandaikan sang legislator dapat berperan maksimal, dan yang lebih kenal adalah pimpinan dan pengurus parpolnya, bukan rakyat pemilihnya. Inilah dinamika yang terjadi hingga kini.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

