Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Zaman semakin maju dengan kekuatan teknologi informasi, bukan saja masuk kampung, tetapi justru ke setiap pribadi. Karena itu, banyak informasi yang bisa didapatkan masyarakat, dan bisa membantu untuk peningkatan pengetahuan dan kecerdasan pemilih dalam membuat keputusan. Termasuk keputusan menggunakan hak pilih untuk memilih caleg yang mana, capres yang mana, dan DPD siapa.
Yang selama ini terjadi adalah pemilih sering dibagi dalam empat kelompok. Ada pemilih tradisional, cerdas, pemilih ngambang atau plinplan, dan pemilih pemula. Pemilih tradisional sering mengandalkan relasi kekeluargaan, perintah pimpinan adat budaya atau tokoh agamanya. Mereka memilih karena perasaan dan kepatuhan. Pemilih cerdas diandalkan, karena pengetahuan dan pengalamannya, di mana mereka memiliki kemampuan untuk pertimbangan kritis dalam menggunakan hak kedaulatannya untuk memilih. Pemilih ngambang atau plinplan, karena ikut arus dan tidak punya pendirian serta kemampuan kritis membuat keputusan menggunakan hak pilihnya. Mereka yang ngambang, gampang dipengaruhi dan bisa berubah setiap waktu. Pemilih pemula, bisa menjadi pemilih tradisional, pemilih plin-plan atau pemilih kritis. Ini tergantung kapasitas pribadi, dan pengaruh lingkungan tempat tinggal atau bisa juga money politics.
Terhadap kondisi pemilih yang dikelompokkan demikian, maka bicara soal kedaulatan rakyat dan hak memilih, juga tergantung seperti apa kualitas pemilih dan masuk dalam kategori kelompok pemilih yang mana. Kesadaran akan hak serta kedaulatan rakyat, sangat tergantung dengan kualitas dan kapasitas pendidikan setiap pribadi rakyat, serta di lingkungan di mana dia berada.
Bagi parpol dan para caleg, juga capres dan DPD, yang sudah pandai, mereka sangat paham tentang kondisi berbagai kelompok pemilih di kampung-kampung maupun di kota. Maka, mereka pun mempunyai aneka strategi sesuai dengan kapasitas pemilih yang ada di setiap daerah pemilihan, yang menjadi target kerja pemenangan politisi.
Dinamika kualitas kedaulatan rakyat masih bervariasi di setiap kampung dan kota. Tingkat pendidikan dan kemampuan ekonomi rakyat, termasuk faktor yang sangat berpengaruh terhadap kualitas kedaulatn rakyat dan kemampuan menggunakan haknya dalam memilih legislatif, eksekutif dan DPD. Karena itu, sungguh diharapkan bisa dilakukan upaya pendidikan warga dan pendidikan pemilih – civil education and voters education , baik oleh negara maupun NGO / LSM. Kedaulatan rakyat dan hak memilih, sungguh sebuah keniscayaan dalam membangun demokrasi demi menjamin upaya kesejahteraan rakyat dan ketahanan NKRI.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

