Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Ada cerita para ibu petani untuk berjuang belajar UMKM dalam rangka meraih peluang ekonomi melalui digital marketing. Mereka harus berjuang keras belajar banyak hal. Perlu menambah pengetahuan dan ketrampilan untuk mengolah produk, membuat kemasan dan label, bangun jaringan dan kerjasama pemasaran produk. Ada peluang dan tantangan milenial yang dihadapi.
Lalu, soal kekuatan dan kelemahan menjadi fakta yang sungguh disadari. Ada kekuatan semangat, kemauan kerja dan hasil pertanian yang dimiliki. Selain untuk konsumsi keluarga, ada kebiasaan pemasaran tradisional dan sekarang ada peluang pemasaran digital. Yang sedang menjadi kekurangan pribadi, bukan saja soal.ketrampipan dan pengetahuan tentang produk dan pemasaran. Namun, kendala utama soal modal produksi dan pemahaman akan kebutuhan konsumen.
Memang, sudah ada dukungan pelatihan dari pemerintah, juga peluang modal usaha dari koperasi dan bank. Namun, kemampuan mengakses lembaga keuangan masih serba terbatas. Antara lain kecemasan untuk soal pengembalian pinjmanan, mengatur uang dengan tertib, juga soal pemasaran produk secara digital.
Pada tataran pembicaraan, terdengar sunggih memberi peluang dan harapan. Namun, saat prakteknya, ada perbedaan kapasitas untuk berubah dalam pengetahuan dan ketrampilan, karena aneka alasan. Pesatnya teknologi digital ternyata tidak sebanding dengan cepatnya perubahan kapasitas para pelaku UMKM. Apalagi dalam konteks bisnis, ada persaingan bebas dan soal pengalaman.
Maka, peluang pemasaran digital, khususnya di zaman milenial ini, rupanya tidak serta merta mensejahterakan para ibu dan masyarakat kampung di tanah air. Mungkin agak berbeda dengan kaum muda, karena persoalannya bukan di penguasaan teknologi, tetapi soal mental dan karakter. Ada hubungan dengan pendidikan, apakah sudah membuat mereka mandiri dan kreatif untuk merajut kehidupannya?
Perubahan dan pesatnya kemajuan zaman digital milenial, sungguh sebuah peluang dan tantangan bagi masyarakat di kampung yang hidup dengan warisan tradisi adat budaya lokal. Sarana digital dan aneka tawaran telah menyerbu pengalaman pribadi, tetapi kemampuan mengakses dan memanfaatkan peluang untuk UMKM demi kesejahteraan ekonomi, masih perlahan dan minim. Sebuah perjuangan yang tidak bisa ditawar, namun penuh resiko dan terasa kejam.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

