Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Kegiatan KTT ASEAN 42 baru selesai digelar di Labuan Bajo, Pulau Flores. Di kota ini telah dilabel sebagai destinasi super premium dan bergeliat aneka sarana pendukung untuk kemajuan pariwisata. Banyak hal dibicarakan serta diputuskan untuk kemajuan ekonomi, mengatasi sejumlah persoalan seperti ‘trafficking’, dan bentuk kerja sama lainnya. Asean diharapkan bisa menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi global.
Pariwisata adalah satu bidang yang diandalkan untuk kemajuan ekonomi di negeri ini. Sebuah harapan nyata dan menuntut perubahan diri serta komunitas untuk bisa mendapat manfaat. Sementara, mayoritas masih di area tradisi adat budaya, khusus daerah Flores dan beberapa destinasi lain yang sedang dibangun.
Khasanah adat budaya, bagi para pelaku wisata kiranya bisa dijadikan obyek paket wisata. Juga obyek alam lingkungan yang eksotik. Yang membutuhkan sentuhan khusus adalah soal manusianya, baik pribadi maupun secara komunitas. Perlu penambahan pengetahuan dan ketrampilan, meningkatan kesadaran melihat peluang, serta memahami perubahan.
Jika hal ini kurang mendapat perhatian, maka aktivitas pariwisata dan peluang ekonomi umumnya akan diakses oleh mereka yang profesional dari berbagai daerah, bahkan luar negeri. Lalu, penduduk lokal di destinasi wisata, super dan super premium, menjadi penonton bahkan korban. Misalnya soal pembelian dan penguasaan tanah, kepemilikan aneka usaha pariwisata dan peluang kemajuan lainnya. Khasanah adat budaya dan pariwisata, bisa bersinergi, bisa juga saling mengalahkan. Semua kembali kepada kapasitas komunitas adat budaya serta para pelaku pariwisata dan kebijakan pemerintah.
…
Foto ilustrasi: Istimewa
