Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Proses pemilu 2024 sedang berjalan. Para politisi yang menjadi caleg dan capres-cawapres juga semakin kreatif menebar pesona. Satu kata kunci yakni menang dalam pertarungan. Semua kemungkinan akan diupayakan demi meraih kemenangan politik. Politik adalah seni kemungkinan.
Salah satu cara yang bisa terjadi adalah mencari kelemahan lawan politik. Hal ini mulai terjadi antara caleg dalam satu partai maupun dengan caleg parpol lain. Antara politisi senior yang sedang menjabat dengan politisi muda yang baru mulai terlibat. Melalui informasi lisan kepada calon pemilih, mulai ada upaya menyebar hal negatif atau kekurangan lawan politik. Lalu, media sosial dipakai untuk tampilkan kelemahan dan dosa lawan politik. Biasanya disebut kampanye hitam, โblack campaignโ dalam politik. Hal yang sangat pribadi pun dipublikasi untuk menjelekkan lawan politik.
Hal tersebut di atas nyata bisa terjadi, karena dimungkinkan oleh sistem dan aturan yang longgar. Lalu, soal keputusan pribadi politisi, ya, kembali pada diri masing-masing. Jika kemenangan menjadi tujuan dan kepentingan sudah menjadi pilihan utama, maka sangat mungkin segala cara dilakukan. Termasuk cara curang dan kampanye hitam. Sekarang mulai nampak, baik langsung oleh para caleg, atau melalui tim kerja pemenangan masing-masing. Hal yang sama mulai terlihat juga untuk capres-cawapres.
Yang sangat menentukan adalah segenap masyarakat bangsa ini. Rakyat yang memiliki kedaulatan dan hak pilih. Apakah hanya tinggal diam dan ikut arus, apakah tinggal dibayar uang dan memilih, apakah harus bersuara dan mulai kritis, apakah cerdas dan bermartabat nyatakan sikap demokratis. Kemaren ada ide untuk mendirikan “Tenda Kedaulatan Rakyat”, di mana rakyat berinisiatif mengundang politisi berdialog dan memperkenalkan diri. Rakyat mulai berdaulat menghadapi hak pilih atauย hakย suaranya.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

