Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Perubahan dan kemajuan zaman tidak bisa ditolak atau dihentikan. Hal ini terjadi juga di kampung komunitas adat budaya lokal. Faktanya, bahwa kemajuan modernisasi dan globalisasi yang sangat pesat, memang tidak sebanding dengan kecepatan perubahan kemampuan pribadi masyarakat. Ada jarak yang jauh dan ketertinggalan dalam setiap pribadi. Sementara di bidang Iptek, khususnya teknologi informasi digital hingga kecerdasan artifisial sekarang luar biasa berkembang.
Perkembangan Iptek tersebut melewati sekat wilayah dan adat budaya, langsung membanjiri setiap pribadi melalui medsos, gadget dan komputer. Maka, akibatnya pun langsung pada ketahanan dan kekuatan setiap pribadi. Batas umur pun tidak bisa dibuat untuk kendalikan pengaruh atau dampak kemajuan Iptek. Anak-anak hingga manula terpengaruh oleh kemajuan Iptek.
Hampir seluruh aspek kehidupan dibanjiri pengaruh Iptek. Maka, daya tahan pribadi diuji. Sudah banyak anak dan orangtua menjadi korban Iptek, karena tak mampu mengendalikannya. Misalnya penggunaan gadget untuk hiburan dan komunikasi. Ada banyak anak ketagihan dan ketergantungan dengan konten game digital. Ada konflik dialami para remaja dan dewasa karena konten di medsos. Ada rumah tangga hancur karena salah mengelola komunikasi dengan media digital. Masih banyak kasus lain karena minimnya kecerdasan pribadi dalam memilih, memilah, mengelola dan menggunakan medsos.
Dengan kemudahan medsos, saat yang sama ada tawaran ekonomi, politik, pendidikan, hiburan serta informasi agama masuk pada setiap pribadi di kampung. Lalu, waktu mendesak untuk diputuskan, namun kemampuan masih terbatas. Maka, ada kebingungan, ada keterpaksaan dan ada juga kekalahan terjadi. Maka, jika tidak disiplin dan berjuang meningkatkan kecerdasan pribadi, maka sangat mungkin tergilas kemajuan zaman digital, yang berubah begitu cepat dengan energi maha dasyat.
Apakah khasanah kearifan budaya dan iman masih bisa diandalkan?
…
Foto ilustrasi: Istimewa

