Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Di tanah air Nusantara ini ada fakta unik tentang adat budaya dan agama. Adat budaya beraneka ragam di setiap komunitas yang tersebar dari Papua hingga Sumatera. Inilah warisan leluhur suku bangsa yang sejak dahulu menghuni setiap wilayah. Keanekaragaman itu kemudian berinteraksi dalam sejarah antar suku bangsa di zaman kerajaan. Lalu pada masa kolonial asing, di mana kekuatan dagang mendominasi wilayah Nusantara. Akhirnya lahirlah NKRI sebagai wujud kemerdekaan dari bangsa kolonial.
Agama dari luar Nusantara masuk melalui jalur perdagangan sejak zaman kerajaan. Kemudian berkembang secara khas di berbagai wilayah Nusantara. Ada agama Budha, Hindu, Konghucu, Islam dan Kristen. Dalam perkembangannya, agama ikut melebur dengan khasanah adat budaya di Nusantara ini. Apakah itu singkretis, dialogis, inkulturatif atau model kreatif yang terjadi.
Menurut saya, komunitas suku adat budaya di Nusantara adalah bangsa yang kreatif dan inovatif. Mereka mampu membuat berbagai dialog dan kolaborasi adat budaya dan agama, agar kehidupan tetap berjalan. Kemanusiaan menjadi utama, sehingga yang diupayakan adalah di mana titik temu yang mendukung kehidupan dan berkembang nilai kemanusiaan.
Di pulau Bali, ada fakta yang sangat unik, yakni adat budaya dan agama itu berintegrasi dalam totalitas kehidupan masyarakat Bali. Maka, sulit membedakan hal keagamaan dan adat budaya, bagi kita yang berasal dari luar Bali. Lalu, saat Lebaran di Jawa. Secara agama adalah hari raya Lebaran dan didahului ibadah puasa selama Ramadhan. Namun, aspek adat budaya sangat mewarnai selama perayaan ibadah keagamaan itu. Salah satunya adalah kebiasaan mudik Lebaran. Dalam agama Katolik di NTT, bagaimana perayaan Semana Santa menjelang Paskah, dan devosi kepada Bunda Maria pada bulan Mei dan Oktober. Banyak aspek budaya diekspresikan, antara lain dalam kesenian tradisi.
Hemat saya, relasi yang integratif dan kreatif antara tradisi adat budaya dan ritual keagamaan itu adalah kekuatan bagi kehidupan dan nilai kemanusiaan. Justru proses kreatif semua komunitas tradisi adat budaya dalam beragama ini menjadi khas Indonesia. Tumbuh nilai toleransi, saling menghormati dan beriman secara kontekstual. Yang menjadi persoalan ketika ada pribadi dan kelompok, yang merasa diri pemilik kebenaran tunggal, lalu menyebar fitnah dan tindakan intoleran akhir-akhir ini. Teringat nasihat Sang Proklamator, “kalau anda Kristen, jangan jadi orang Jahudi. Kalau Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau Hindu, jangan jadi orang India. Tetaplah dengan kekhasan adat budaya Indonesia yang kaya raya ini.”
…
Foto ilustrasi: Istimewa

