Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Dengan aneka perubahan masuk kampung, maka ada banyak perkembangan positif untuk kehidupan, namun ada juga dampak negatifnya. Antara lain soal khasanah nilai dan kearifan lokal, yang menjadi identitas kultural bagi pribadi maupun anggota komunitas adat budaya. Dalam beberapa tulisan yang lalu, saya coba mencatat ada beberapa perubahan, dengan sebutan “pancaroba lingkungan, sosial budaya, Iptek, ekonomi dan politik.”
Semua dinamika dan interaksi perubahan yang terjadi di komunitas tradisi adat budaya itu, pada gilirannya menggugat identitas kultural anggota komunitas. Bahkan pada saat yang sama mengancam keberadaan komunitas adat budaya lokal tersebut.
Catatan sejarah di berbagai wilayah tanah air maupun di benua lain, banyak komunitas tradisi yang tersingkir dan punah. Salah satu sebabnya adalah sumber daya alam lingkungannya diambil alih untuk kepentingan pertambangan dan perkebunan. Contohnya di Afrika, Amerika Latin dan beberapa wilayah adat di tanah air kita.
Demi eksploitasi sumber daya alam, yang dilakukan oleh para pemodal dan didukung negara, maka nasib komunitas adat budaya yang seharusnya berhak mewarisi, sering kalah dan tersingkir. Ada banyak kisah sesuai konteksnya masing-masing dalam setiap kasus di komunitas adat budaya.
Terhadap fakta transisi dan eliminasi identitas kultural itu, setiap komunitas memiliki pengalaman dan cara menghadapinya. Ada yang tak berdaya dan apatis, lalu tercerai-berai dan sirna. Ada juga yang bertahan lalu berjuang mempertahankan diri. Yang lain, mampu menemukan kreasi, adaptasi dan inovasi untuk menjaga identitas kultural di tengah tantangan zaman. Bagaimana fakta identitas kultural di kampung adat budaya asal usul kitaย masing-masing?
…
Foto ilustrasi: Istimewa

