Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Dalam relasi kepentingan zaman dahulu, terlahir satu tradisi yakni pasar. Di pasar itu, terjadi pertemuan aneka kepentingan untuk saling tukar. Pasar Barter, karena sepakat menukar barang, karena tahu apa yang dibutuhkan. Misalnya nelayan menukar ikan dengan ubi jagung buah dari petani. Lalu, waktu untuk pasar disepakati menurut hari dan tempat. Relasi perjumpaan terjadi, dan wilayah jangkauan terbatas, sesuai kemungkinan alat transportasi lokal; entah kuda atau sampan dan perahu.
Setiap komunitas adat budaya memiliki bahasa lokal, maka menarik membayangkan bahasa yang dipakai dalam perjumpaan di pasar tradisional untuk barter tersebut.
Di beberapa tempat, ada terpatri nama dari para pengujung yang datang dari luar pulau, seperti dari Badjo, Bima, Goa, Jawa, Malaka dan China.
Di dekat rumahku, ada pelabuhan dan pasar zaman dahulu, diberi nama “Nuba Badjo – Karang Jawa”. Juga ada nama Labuan Badjo dan Benteng Portugis. Zaman Pasar Barter itu ternyata sudah mempertemukan berbagai kelompok suku bangsa lintas pulau dan benua.
Ketika perjumpaan dagang dengan sarana uang, maka pasar pun ikut berubah. Barang dan jasa ditukar dengan uang kertas dan logam. Memang alat tukarnya lebih mudah dibawa, namun relasi antar pihak pun ikut berubah. Agar bisa memenuhi kebutuhan, lebih banyak orang bekerja mengumpulkan uang, sehingga bisa membeli barang dan jasa.
Sistem pasar pun turut berubah, dan lahir juga lembaga pengelola uang, serta sistem baru dalam relasi antara penghasil barang dan jasa dengan pemilik uang. Hampir semua segi kehidupan diukur dan dinilai dengan jumlah uang, dengan mata uang dari berbagai negara.
Di zaman digital milenial ini, sedang berubah juga pasar dan uang. Pasar berpindah ke layar gadget, ada pasar online dan uang pun berubah rupa menjadi digital. Maka, pertukaran barang dan jasa pun terhubung dengan sarana komunikasi digital, pembayaran pun dengan sistem angka digital. Ketiga sistem pasar itu ada, dan sangat berkaitan dengan sarana pendukung serta kemampuan manusia yang terlibat.
Di tempat tinggal saya, masih bisa dijumpai pasar barter, pasar modern dengan uang, dan pasar online dengan sarana digital milenial.
Budaya zaman berkembang, perubahan terjadi, manusia pun diubah dan perlu berubah, sesuai tuntunan zaman serta kemampuan mengikuti sistem pasar dan alat tukar. Manusia berubah dan diubah dalam sejarah peradaban yang diciptakan dirinya.
Apakah relasi perjumpaan semakin bermanfaat bagi kesejahteraan hidup serta harkat martabat?

