Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Tradisi mudik dikenal di pulau Jawa. Lalu menjadi sebuah peristiwa nasional, bukan saja di Jawa tetapi ke luar Pulau Jawa. Tradisi ini bertepatan dengan hari raya Lebaran, Idul Fitri. Mereka yang meninggalkan kampung halaman untuk pergi mencari nafkah di luar daerah, entah kota dan wilayah lain, terpanggil pulang kampung saat Lebaran.
Ketika bergaul dengan sejumlah sahabat dan kerabat selama ada di Jawa, mereka menceritakan alasan mengapa mudik. Mudik itu untuk bertemu keluarga, bisa nyekar ke makam orangtua leluhur, bisa sujud kepada orangtua, bisa bersilahturahmi kepada sesama saudara dan merayakan syukur Idul Fitri di kampung.
Ada nilai rohani, sosial budaya dan aspek totalitas pribadi untuk meruwat kehidupan. Memberi makna pribadi dalam momen yang penuh berkah, sekaligus mengumpulkan doa restu untuk perjuangan kehidupan selanjutnya. Jika demikian maknanya, maka mudik ini saya sebut sebagai “ritual pergi dan pulang kampung”. Saya melihat ikatan spiritual yang sedemikian kuat dalam mudik bagi pribadi dan komunitas yang melaksanakannya.
Kampung sebagai asal usul, dengan sejarah dan khasanah nilai luhur bagi setiap anggota komunitasnya, masih menjiwai pribadi yang pergi merantau untuk pulang. Momen yang dipilih adalah saat Lebaran, Idul Fitri setiap tahun. Ikatan kekerabatan kampung sungguh dialami sebagai sumber energi kehidupan dan identitas diri. Belajar dari tradisi mudik itu, lahir dua pertanyaan bagiku.
Seberapa besar ikatan kekerabatan dan identitas pribadiku dengan kampung asal orangtua leluhurku hingga kini? Bagaimana generasi zaman now, memiliki ikatan personal dengan identitas adat budaya dan kampung asal orangtua leluhurnya? Tentu, setiap pribadi yang bisa menjawabnya. Kondisi di setiap kampung asal serta komunitas adat budaya itu memiliki keadaan yang berbeda-beda. Mudik adalah ritual pergi dan pulang kampung asal.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

