Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Beberapa saat lalu, saya ikut berdoa dan posesi penguburan seorang paman di kampung. Beliau mendapat apresiasi khusus dari anak, cucu, cicit serta keluarga besar dan masyarakat. Umurnya yang sepuh hingga 95 tahun, menjadi berkat yang disyukuri secara isitimewa, saat rangkaian prosesi kedukaan hingga dimakamkan.
Prosesi pemakaman secara istimewa terjadi di setiap komunitas adat budaya di wilayah Nusantara maupun di luar negeri. Ada hubungan dengan status sosial, jabatan dalam komunitas adat budaya dan agama, tingkat ekonomi dan jabatan publik, atau alasan lain sesuai konteks wilayah dari sosok pribadi yang dimakamkan. Misalnya upacara Ngaben di Bali, penguburan tokoh adat di Dayak, Batak dan Toraja, juga pemakaman tokoh agama, politik, seniman dan orang kaya tertentu. Ada publikasi yang meluas dan model upacara istimewa.
Sehubungan dengan prosesi penguburan paman yang usia sudah sepuh di kampung, saya merasa istimewa. Ada ungkapan kedukaan dan ratap tangis, ada tabuhan gong gendang dan tarian, ada doa secara keagamaan. Ketika jenazah disemayamkan, ada iringan musik tradisional, gong gendang, bagi semua yang datang melayat dan berbela sungkawa. Silih berganti ada doa secara keagamaan. Ketika iringan jenazah menuju makam, semua melebur menjadi satu. Air mata ratap tangis perpisahan, senyum tawa kegembiraan syukur, tarian sukacita diiringi gong gendang dan doa mohon keselamatan jiwa. Ada bonus lagi, yakni empat pasang ayam petarung berlaga di sekitar makam, untuk mengenang hoby almarhum semasa hidup, sebagai seorang jawara rekreasi sabung ayam.
Tradisi prosesi pemakaman untuk yang sudah berumur sepuh, sudah sekian kali saya saksikan di kampung. Umur 70 tahun ke atas hingga 100 tahun lebih, dialami sebagai berkat istimewa. Sosok pribadi sepuh itu sudah mengarungi sejarah hidup, hingga memiliki keturunan anak, cucu dan cicit. Pengalaman akan umur panjang, tidak meniadakan kekurangan sebagai manusia, tetapi menjadi fakta yang dibanggakan keluarga dan komunitas adat budaya. Lalu, secara agama pun mendukung nilai syukur itu. Mereka mendapat hadiah Sang Pencipta untuk umur yang panjang.
Ada perayaan atas mujizat kehidupan, baik secara tradisi adat budaya dan agama. Kesedihan dan ratap tangis karena perpisahan, sekaligus sukacita syukur atas berkat umur panjang. Amal dan karya, jabatan dan kekayaan terlihat banyak peran manusia. Namun, ketika bicara tentang umur panjang, maka yang utama adalah karya mujizat kemurahan Sang Pemilik kehidupan. Patut dinyanyikan syukur, seperti lagu “Indah RencanaMu, Tuhan.” Requiescat in Pacem – Rest in Peace, berisitirahat lah dalam damai Tuhan.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

