Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Pada musim politik menjelang pemilu 2024, para caleg dan politisi mengatur aneka strategi dan cara pendekatan untuk meraih suara dan menang. Salah satu cara adalah pendekatan relasi keluarga hubungan darah dan kekerabatan ini mulai dihitung dari yang sekandung, keluarga ayah dan ibu, besan dan ipar, tetangga dan sahabat serta relasi kekeluargaan lainnya yang terjauh.
Ketika relasi itu putus atau renggang, maka diupayakan dengan berbagai cara agar kembali bersambung dengan silahturahmi. Menarik dan baik adanya. Karena kepentingan politik dalam pemilu, maka ada kesadaran untuk memulihkan relasi kekeluargaan yang renggang atau terputus. Salah satu pemeran adalah tim sukses atau tim pemenangan yang menjadi fasilitatornya.
Ada fakta lain yang miris soal pendekatan kekeluargaan ini. Parpol peserta pemilu bertambah, lebih dari sepuluh parpol. Ada aturan agar parpol menentukan caleg sesuai jenjang administrasi pemerintahan (Caleg Kabupaten – Propinsi – Pusat) dan daerah pemilihan, serta kuota keterwakilan perempuan. Khusus untuk caleg dari daerah pemilihan di Kabupaten, ada fakta bahwa tidak gampang menemukan caleg untuk memenuhi aturan KPU oleh setiap parpol.
Karena kondisi itu, maka ada fakta bahwa dari satu wilayah kampung, suku, bahkan keluarga tetapi terlibat di parpol berbeda-beda, dan menjadi caleg nomor satu misalnya. Ketika memakai pendekatan keluarga, maka fakta ini justru menjadi persoalan. Persoalan bagi para caleg maupun keluarga – suku dan kampung asalnya. Semua caleg ada beban dengan parpol, juga mau berjuang dan menang, sedangkan jumlah pemilih di keluarga, suku dan kampung terbatas. Apalagi harus berkompetisi dengan saudara sendiri yang juga caleg dalam satu parpol atau parpol lain, di daerah pemilihan yang sama.
Ketika ada pilkada, dengan calon paket yang sedikit, dua atau tiga paket, itupun metode pendekatan keluarga justru menjadi masalah bagi keluarga dan komunitas kampung, ketika kandidat paket pilkada memang ada hubungan kekeluargaan. Apalagi saat caleg di pemilu yang lalu dan sekarang menjelang pemilu 2024. Ada caleg yang berkonflik dengan caleg lain atau dengan keluarga, soal perebutan suara ini.
Ternyata, sistem pemilu yang ada bisa merenggangkan dan memutus relasi kekeluargaan. Kepentingan politik oleh parpol dan caleg untuk meraih suara dan menang mandapat kursi legislatif, rupanya bisa menjadi masalah bagi relasi sosial atas dasar darah dan kekerabatan adat budaya. Kepentingan politik tidak bisa tertunda karena ikuti agenda pemilu, relasi keluarga sudah turun temurun, lalu suara yang terbatas diperebutkan puluhan caleg dari banyak parpol.
Maka, model pendekatan kekeluargaan dalam rangka pemilu 2024 menjadi satu pilihan penuh resiko. Jika disadari dan dipahami parpol dan para caleg, maka kiranya ditemukan model alternatif lain yang lebih efektif. Kepentingan utama parpol dan caleg adalah meraih banyak suara dan menang. Sebaliknya, keluarga, suku dan kampung adat budaya pun bisa menemukan model baru inovatif untuk menghadapi fakta banyaknya parpol dan caleg. Bisa saja membuat kesepakatan suku dan komunitas kampung dengan parpol atau caleg, untuk nanti mempercayakan suara dalam pemilu 2024.
Ada yang lain memiliki prinsip dan ukuran berbeda dalam menggunakan suaranya, Luber. Langsung berurusan pribadi dengan calegnya, apa manfaat bagi dirinya. Bisa juga sistem barter atau jual beli suara, yang biasa disebut “politik uang”. Atau menjadi tim pemenangan caleg dan parpol, lalu bisa mendapat manfaat sarana serta dana. Maka, model pendekatan kekeluargaan menjadi ambigo dan bukan model paling efektif. Meskipun demikian kondisinya, untuk banyak keluarga di kampung komunitas adat budaya masih terjadi pendekatan politik melalui relasi kekeluargaan dan adat budaya. Dalam konteks ini, pendidikan warga dan pemilih menjadi sebuah kebutuhanย mendesak.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

