Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Sejak dahulu kala, manusia sudah mengalami sakit penyakit dan bencana alam. Dalam tiap zaman ada konteknya terjadi sakit penyakit dan bencana alam.
Komunitas masyarakat adat di berbagai belahan dunia, memandang sakit penyakit dan bencana alam itu sebagai teguran kepada manusia, atas perilaku yang tidak pantas. Maka, saat mengalami sakit penyakit, pertanyaan dan ungkapan yang muncul adalah “saya atau kita salah apa?”
Obat untuk sakit penyakit adalah memulihkan kesalahan pribadi atau keluarga atau komunitas. Ada upaya menemukan kesalahan, lalu pernyataan dan pengakuan bersalah, membuat ritual permohonan ampun, lalu pengobatan sesuai kesalahan oleh pihak yang berkompeten. Bahkan, ada yang sembuh tanpa obat, asalkan ritual pemulihan sudah dilakukan. Hal yang sama juga dilakukan dalam menghadapi bencana alam.
Dalam lingkungan masyarakat modern, sakit penyakit yang diderita, akan berurusan dengan rumah sakit, para tenaga medis, dan obat. Semuanya sangat berkaitan dengan cara merawat kesehatan diri, lalu kemampuan uang untuk berobat saat sakit.
Pasien mempercayakan pemulihan kesehatannya pada โdiagnosaโ dokter, karena keahlian medisnya. Lalu, jasa profesi perawatan kesehatan serta obat, harus dibayar. Saat ada bencana, ada lembaga / badan yang berkompeten menjelaskan, bahkan bisa memberitahu ramalannya, sesuai alat dan ilmu yang dimiliki. Misalnya, predisksi gempa, badai, hujan lebat, cuaca ekstrim oleh BMKG, lalu dipublikasi media.
Tentang wabah penyakit dan bencana alam, memang ada pengalaman dan ilmu pengetahuan bisa memprediksi serta mengatasi masalah. Namun, ada ruang yang masih gelap dan misteri. Misalnya pandemi covid19, banyak penyakit baru muncul, bencana gempa dan tsunami.
Tidak bisa diprediksi pasti dan ada solusi tuntas. Baik masyarakat adat maupun manusia modern, mempunyai keterbatasan kemampuan. Akhirnya kembali pada satu penegasan tentang kerapuhan manusia, fakta kemutlakan ketergantungan manusia kepada alam lingkungan dan perlu kepasrahan kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Coba simak syair lagu Ebiet: “Kita mesti bersyukur, bahwa kita masih diberi waktuโฆ tiada yang bakal, bisa menjawab, mari hanya tunduk sujud pada-Nya.”
Masihkah ada iman dan kemauan bersyukur, termasuk atas adanya sakit penyakit dan bencana alam?

