Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Bangunan rumah di kampung adat budaya sangat unik. Bahannya selaras alam, sederhana, dan proses membangun disertai sejumlah ritual, dengan cara pandang, nilai dan prinsip yang khas di setiap komunitas adat. Ada yang sudah punah, ada yang berubah dan beradaptasi, ada yang masih dipertahankan dan dijaga kelestariannya, dengan fungsi yang sungguh dihidupi. Contohnya masih bisa ditemukan di komunitas adat Timor, Bali, Toraja, Dayak dan Batak.
Dalam perkembangan modern, bangunan rumah tinggal serta keperluan lainnya, jelas berbeda. Bahannya, arsitekturnya, pemanfaatannya serta proses pembangunannya. Hal ini memang berbeda, karena kepentingan modern itu tidak sama dengan bangunan rumah di kampung adat budaya.
Para pemilik rumah dan bangunan modern memang berasal dari kampung adat budaya, namun sudah meninggalkannya dan menjalani ruang kehidupan budaya baru. Bahkan ada bisnis properti, untuk bangunan rumah tinggal serta perkantoran dan pasar modern.
Ketika terjadi masalah modern, ada juga kecenderungan untuk kembali ke alam, mencari suasana natural dan merindukan hal yang sudah serpihan puing Tempo Doeloe. Ada yang diupayakan dalam bentuk vila, lokasi wisata mirip bangunan kampung, atau rumah tinggal selaras alam. Fenomena ini terjadi di negara maju dan metropolitan, dan lahir setelah adanya masalah di perkotaan serta aneka disharmoni dengan alam lingkungan.
Beberapa dekade akhir ini, sedang menjadi perhatian global soal degradasi lingkungan, efek rumah kaca, menipisnya lapisan ozon, polusi udara, pencemaran air dan laut dan krisis energi.
Manusia bertambah, kemajuan Iptek luar biasa, tetapi alam lingkungan terbatas serta berkurang kualitasnya. Manusia terancam dengan aneka masalah. Manusia tanpa alam, pasti mati dan punah. Alam tanpa manusia bisa lestari.
Apa yang bisa dibuat untuk harmoni dengan alam lingkungan?

