Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Dalam tradisi adat budaya kampung, relasi dengan alam semesta adalah sakral. Alam disapa dengan nama dan pribadi. Bumi ini Ibu, Langit adalah Bapak, segala isinya adalah saudara-saudari.
Ada kepercayaan, bahwa manusia berasal dari alam lingkungan, maka ada totem dan tabu setiap suku. Isi alam dipakai dengan memohon izin, yang disertai aneka ritual. Sebuah penegasan tentang ketergantungan mutlak manusia pada alam. Manusia berasal dari alam, hidup dari alam dan kembali ke alam lagi.
Dalam cara pandang modern, dengan kesombongan teknologi dan ilmu pengetahuan, maka alam ini adalah obyek untuk digunakan sebanyak-banyaknya, demi selera dan kepentingan manusia pemilik IPTEK. Bukan saja di bumi, tapi menjelajah ke planet lain pun dilakukan. Ketika ada masalah, semua dicari alasan dan pembenaran secara Iptek, karena mengandalkan kehebatan akal pikiran. Kearifan adat budaya sering dicap kuno, tradisional dan percaya sia-sia. Hal yang sama, ketika terjadi bencana alam.
Masyarakat adat budaya, ketika ada bencana alam, akan berteriak minta tolong, menjerit memohon ampun dan bertanya pada diri serta komunitas: “kita salah apa?” Mengapa alam marah? Mengapa kita ditimpa bencana? Lalu, ada ritual silih dan ruwatan alam, ungkapan mohon ampun dan sujud minta perlindungan kepada Sang Pemilik Semesta – TYME.
Berbeda dengan masyarakat modern, bencana alam dihadapi dengan argumentasi dan analisa akal yang diandalkan. Ada yang saling menuding dan mempersalahkan, lalu ada hipotesis dan kajian ilmiah, serta strategi kebijakan politik dan bisnis dijalankan. Sering kali, masalah diatasi dengan masalah baru dan solusi Iptek.
Bencana alam selalu menegaskan beberapa hal ini:
Manusia memang istimewa dengan akal budinya, tapi sangat rapuh dan terbatas.
Manusia sangat mutlak tergantung pada alam semesta. Diri manusia misteri dan alam semesta sungguh ajaib misteri.
Bencana alam tidak mampu dicegah dengan ilmu pengetahuan manusia. Ketika terjadi bencana alam, yang menderita dan jadi korban sulit diduga dan dihindari.
Keagungan alam hanya diakui, ketika manusia sudah tak berdaya. Sang Penguasa semesta hanya dicari dan digugat, ketika sudah tertimpa bencana alam.
Setiap pribadi akhirnya harus membuat keputusan bagi dirinya. Seperti apa relasi dirinya dengan sesama, alam semesta, dan Sang Pemilik Kehidupan.
Siapakah aku ini ?

