Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Sebagai bukti sejarah tempo doeloe, ada sejumlah kampung tua dari komunitas adat budaya di Nusantara, bisa dijumpai bangunan ritual. Ada megalitik, menhir, punden berundak, juga kubur batu leluhur.
Sebagian dari bangunan itu masih dihormati dengan ritual adat, tapi kebanyakan hanya bisu sebagai jejak masa lalu.
Pemangku adatnya “dipensiunkan zaman”. Ada yang karena pengaruh budaya luar, ada yang memang ditinggalkan, dan berbagai alasan lainnya dari pewarisnya.
Bersamaan dengan kondisi itu, banyak hal lain ikut berubah. Cara pandang, spiritualitas adat, perilaku, pola konsumsi, relasi sosial dan sarana fisik lainnya. Inilah fakta dinamika budaya, yang berkaitan erat dengan pribadi dan komunitas pemiliknya.
Banyak faktor internal dan eksternal saling mempengaruhi, dan zaman mencatat faktanya. Ketahanan komunitas kampung adat budaya, terutama dijamin oleh para pemangku dan segenap pemilik – pewarisnya.
Ada wilayah kampung adat yang berubah jadi perkebunan, pabrik, dan lokasi tambang. Ada yang jadi perumahan dan perkotaan. Lalu, bangunan modern berdiri, listrik masuk dan penduduk adatnya justru berpindah entah ke mana.
Mereka adalah komunitas kampung yang kalah dan tersisih kemajuan modern dari pihak lain, dalam semua dimensi kehidupan. Identitasnya punah dan hanya cerita masa lalu.
Belajar dari pengalaman komunitas kampung adat budaya di Bali, mungkin bisa dikatakan satu pembelajaran. Bertahan dan kuatnya sebuah komunitas kampung adat, bukan karena dukungan dari luar, tetapi terutama karena komunitasnya yang menjaga, menghidupi dan melestarikannya.
Alasan utamanya, karena komunitas kampung adat masih mengalami manfaatnya bagi kelangsungan hidup mereka, di tengah kemajuan zaman serta berbagai pengaruh luar.
Ritual adat berkaitan dengan aspek spiritual yang dihayati dan dihidupi komunitas pemiliknya.
Bagaimana khasanah ritual dan spiritual di kampung adat kita masing-masing saat ini?

