Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com โ Setiap manusia terlahir dengan dimensi sosial. Setiap pribadi ada dari yang lain, ada bersama yang lain, dan ada untuk yang lain.
Satuan sosial terkecil adalah keluarga, ibu bapa anak. Lalu, ada perubahan kesadaran sosial dan lahirlah “kampung” – kelompok sosial yang menetap. Dari nature yang nomaden, menjadi “commune” yang membangun “culture”.
Ada aneka komunitas suku bangsa di seluruh dunia, yang tercatat dalam sejarah manusia. Ciri khusus dan utama kebudayaan itu adalah dinamis dan berubah, seperti perubahan manusia itu sendiri. Dinamis dan berubah dalam ruang dan waktu.
Kampung, komunitas tradisi suku bangsa pun berubah. Ada yang sudah hilang dan sisa nama, ada yang beradaptasi dan berinovasi, dan ada yang bertransformasi.
Setiap pribadi zaman ini, sesuai dengan asal usulnya, pasti ada relasi dengan kampung – komunitas awal suku bangsanya.
Setiap pribadi melewati rentang waktu: kemarin, hari ini dan esok.
Zaman digital milenial, bisa membawa kita ke kampung tempo dulu, sekaligus berimajinasi tentang kampung masa depan. Bukan saja di bumi, tetapi ada mimpi membuat kampung di planet lain. Bahkan kampung di jagat Maya dengan data. Manusia meninggalkan “kampung lama” dan berjalan membangun “kampung baru”.
Di mana kampungku sekarang?

