Simply da Flores
…
1.
Aku diajak bertemu di sudut kota
Senja, kopi, dan malam menanti
Pertemuan tanpa suara, tetapi banyak kata
Perjumpaan tanpa agenda, tetapi penuh makna
Belajar berkaca pada alam
yang selalu dialami sehari-hari,
tetapi jarang ada jeda menyadarinya
2.
Kepada senja, kopi, dan malam
saya sapa dan ucapkan terima kasih
Kami sepakat memilih menu Paket Udara
karena inilah energi yang cocok untuk semua
Suasana begitu akrab, meskipun baru pertama terjadi
Ada rindu damba dan sedikit canggung
Lalu kubisikkan banyak pertanyaan
agar makin tahu dan pahami realitas alam
3.
Kepada senja aku tanyakan
“Senja, apakah engkau memang penuh pesona
atau itu hanya apresiasi manusia saja
Pernahkah engkau lelah dan menggerutu pada majikanmu
Ke manakah engkau saat hujan deras dan kabut hitam
Mengapa siang hari diakhiri dengan senja?
Senja tersenyum dan pelan menjawab
disaksikan aroma kopi dan remang malam
” Aku cuma jalani takdir semesta
Tugasku mejahit tepi siang dan awal malam
Tugas subuh menjahit tepi malam dan awal pagi
agar satu hari menjadi utuh dalam putaran ziarah mentari bagi bumi ini
Maka
soal indah dan pesona
soal nama dan aneka apresiasi
Itu urusan kalian manusia
Bahkan banyak yang tidak peduli adanya aku”
5.
Kepada malam aku juga bertanya
“Malam, mengapa engkau gelap gulita
Memang sedikit jelas wajahmu
saat ada bulan dan bintang pantulkan cahaya
Apakah engkau bahagia jadi malam”
” Semestinya aku enggan menjawab
karena adanya kami berbeda dengan manusia
Kami ini tarian dan wajah semesta
Kami tidak berlaku seperti kalian insan
Pengalaman gelap juga hanya pengalaman anda
karena alami rotasi bumi dan cahaya mentari
Kami berjalan sesuai hukum alam
dan bisa bermakna kalau disadari manusia”
6.
Sambil kuhirup aromanya dan aku teguk nikmatnya
Beberapa pertanyaan kubisik pada kopi
“Wow… nikmat dan menggoda
Mengapa engkau mau digoreng menjadi hitam dan pahit
Apa hebatmu sehingga menggoda kami manusia untuk menikmati
Kenapa mau dibudidayakan dan diperdagangkan
Kopi, apakah engkau senang dinikmati kami manusia”
Sambil tersenyum dan mengangguk
kopi tertawa kecil dan menjawab
“Kalian manusia aneh tapi nyata
Koq bisa tergoda, jatuh cinta, dan tergila-gila pada pahit dan hitam
Lalu bisa berdagang bijiku, tepungku dan sajikan dengan aneka kemasan dan resep
Aku bangga sekaligus kasihan
Bangga karena ada manfaat bagi kalian
Kasihan karena banyak yang mengkonsumsi aku tanpa sadar
Cuma ikut tradisi dan gaya sesamanya”
7.
Aku pandangi wajah kopi, senja, dan malam
sambil senyum malu dan mengangguk
Pertemuan malam ini memang istimewa
Aku belajar banyak dari mereka
Aku dihentak kesadaran akan kecilnya diriku
ketika mengetahui mutlaknya ketergantungan hidupku pada alam semesta
Bahkan diriku cuma tercipta dari debu tanah
dan istimewa karena dihembusi nafas Sang Pencipta
Aku bukan apa-apa tanpa alam ini
Aku bukan siapa-siapa di hadapan semesta
Apalagi di hadapan Sang Maha Pencipta
yang memberi aku nafas kehidupan
yang menjamin langkahku dalam derap roda waktu
yang jadi penyelenggara adaku
yang jadi tujuan kembali ziarah kelanaku
“Terima kasih kopi, senja, dan malam”

