Simply da Flores
…
1.
Cahaya menikam pundak ragaku
telapak kaki diperebutkan pasir dan ombak
Pagi ini terasa berbeda
aku berjalan menyusuri hamparan pasir
ditemani senyum dan tanya
tentang fakta alam dan pengalaman manusia
Senyum pada pesona sinar mentari
yang memeluk wajah samudra raya
Sementara ikan menari-nari memuji langit
dan burung camar bernyanyi mengiringi ombak
Inikah pesona pagi alam lingkungan
Adakah terima kasih dan syukur manusia di zaman ini?
Aku bertanya pada hamparan pasir
yang pasrah dihantam deburan ombak
siang malam tak pernah berontak
dan tanya pada karang-karang yang membisu diterpa gelombang
Inikah takdir alam semesta
Apakah ini juga misteri peradaban manusia?
2.
Belum ada anak-anak bermain ombak
mungkin masih lelap tertidur di pelukan angin
Ada beberapa nelayan mendorong sampan
hendak ke laut mencari lauk
Ada yang lain baru pulang mendarat
sepanjang malam mengail meminta rezeki
Ada beberapa perempuan di pantai
mereka memilih kayu hempasan ombak
sambil menunggu suami pulang melaut
Ibu yang lain sibuk di dapur keluarga
siapkan keperluan anak dan suami
Kehidupan keluarga nelayan sahaja
adalah doa pasrah tak bertepi
mengandalkan nasib pada belaskasih Bunda Samudra
Samudra adalah Bunda Kehidupan
Lumbung jawaban bagi nasib keluarga
Nelayan bukan datang memanen hasil tanaman
seperti petani di sawah ladangnya
Nelayan berjuang dalam doa
pasrahkan nasib dalam belas kasihan semesta
Meski hasilnya sering ditawar murah di pasar
3.
Desir suara ombak bercerita
tentang aneka racun sampah polusi manusia
Setiap saat dibuang ke mulut dan rahim samudra
Gelombang datang membawa bukti
beragam sampah berserakan di pantai
buah pilihan pribadi insani
Samudra diam membisu menerima
Segala perilaku manusia datang padanya
Entah permohonan dan keluh kesah
Entah sampah dan caci maki
Bunda Kehidupan memeluk dengan senyum, meski terluka
Kepada langit samudra mengadu
tentang segala lara nestapa sampah
Kepada angkasa samudra mengeluh
semua luka perih racun polusi
Mentari turunkan cahaya dan air mata
Membasuh bumi dan segenap makhluk
agar kembali segar dan harmoni
Meskipun manusia sering lupa menyadari
hidupnya mutlak tergantung pada alam semesta
4.
Pagi ini pesona cahaya mentari
menyibak dingin kabut dan awan
Angin semilir menyapa sanubari jiwa
Ingatkan mata raga dan selera rasa
yang terpesona pada ombak
yang penasaran menghitung butiran pasir
yang terjerat kilau gemerlap zaman
“Berkembang-biaklah seperti hamparan pasir di pantai dan lautan
Beranak-cuculah seperti bintang di angkasa”
Manusia meledak bertabah banyak jumlahnya
Kebutuhan hidupnya harus dipenuhi
semuanya bersumber dari alam semesta
Alam lingkungan terbatas dan berkurang kualitasnya
Apakah sungguh disadari manusia zaman ini?
Siang hari terlihat cahaya fajar
langit biru luas terbentang
Mata tak mampu melihat isi angkasa
Namun
ketika malam gelap gulita
akan tampak isi jagat raya
Tak mampu dihitung mata dan nalar
Planet, bintang, galaksi dan masih banyak lainnya
Siapakah manusia di hadapan jagat raya
Adakah kesadaran syukur dan terima kasih kepada Sang Pencipta semesta alam?

