Simply da Flores
…
1.
Mengawali masa Puasa – Pra Paskah
ada Perayaan Rabu Abu
Setiap umat Katolik ditandai debu tanah
dibuat salib dengan abu pada dahi
“Ingatlah engkau manusia
Dari debu tanah engkau berasal
maka kepada debu tanah engkau pasti akan kembali”
Sebuah penegasan akan hakikat asal usul
dan fakta kehidupan sehari-hari
Aku tergantung mutlak pada bumi dan langit ini
Aku terlahir dalam tanya, fakta, dan misteri
Sebuah kreasi Sang Maha Misteri
di atas muka bumi ini
terjadi silih berganti dalam sejarah generasi
2.
Puasa…
Ritual sakral untuk kembali pada hakikat pribadi
Saat suci menyadari inti sari kehidupanku
Kesempatan istimewa berkaca dan berbenah diri
Dari mana aku datang
Ke mana aku akan pulang
Bagaimana aku berada dan menjadi
memberi makna apa dan siapa diriku
Adakah aku jadi berkat dan solusi bagi sesama
ataukah justru hidupku jadi sumber masalah untuk orang lain
Siapakah aku kemarin, hari ini, dan esok?
3.
Ketika aku bertanya pada debu tanah
yang ditabur dengan tanda salib di dahi
Mengapa puasa dimulai dengan Rabu Abu
maka debu tanah menjawabku bijak
“Debu tanah itu hakikat pribadimu
Debu tanah itu Ibu Bapakmu
Debu tanah itu saudara-saudarimu
Sadarlah akan injakan telapak kakimu
dan udara pada nafasmu
Semua kegiatan hidupmu terjadi di bumi
dan makan minummu dari hasil bumi ini
Engkau tergantung mutlak pada debu tanah
sejak engkau datang sampai pulang kembali
Engkau adalah sosok ‘jagat kecil’
dalam irama alam jagat raya”
4.
Untuk menemukan makna puasa
“Jangan dulu kembali ke dalam hati sanubari
Cukup gunakan pikiranmu menyadari
apa yang ada pada tubuhmu
semua yang terjadi sehari-hari”
Ada daki kotoran di seluruh badan
bagian kulit yang terkupas bercampur keringat dan debu tanah
Ada kotoran ke luar dari mata, hidung, dan telinga
Ada kotoran ke luar dari tenggorokan dan mulutmu
Ada kotoran yang dibuang dalam kencing dan dubur
sebagai sisa proses makan minum dan pencernaan
Umur bertambah setiap hari dan ada organ tubuh berubah atau tidak berfungsi
Saat habis usia dan nafas tak berfungsi
maka seluruh raga menjadi debu tanah
Mungkin inilah salah satu makna Puasa
5.
Dengan tanda salib debu tanah
dibuat pada bagian dahi
Agar pikiran dipakai menyadari
bahwa jagat kecil pribadiku
selalu horizontal dan vertikal
Saya bisa melangkah ke delapan arah
ketika memutuskan jadi apa dan siapa
Saat berkelana setiap hari
di atas kepala menjunjung langit
di sekeliling ada alam dan pribadi lain
di telapak ada debu tanah menatangku
Maka saat berpuasa ini
ketika ke dalam memasuki hati sanubari
Pikiran berjuang menyadari debu tanah
yang pasti melekat dan mengotori
Keinginan dan selera yang selalu lapar dahaga membara
Nilai dan prinsip di ladang hati nurani
Jalan dan ruang dalam istana jiwa
Apakah disadari dan mau dibersihkan
Atau terus dibiarkan dan dibawa melangkah ke mana saja
dalam detak waktu menuju akhir usia?
Mungkin ini juga makna puasa

