Simply da Flores
…
1.
Ribuan panah menikam merobek fajar
agar jangan pancarkan sinar ke bumi Cendrawasih
Jutaan butir peluru ditembak menembus bintang Kejora
agar jangan biaskan cahaya fajar di tanah Kasuari
Perkelahian anak panah dan peluru senjata
masih membara disaksikan angin
Entah sampai kapan nanti berakhir
untuk hentikan sinar Fajar dan cahaya bintang Kejora
karena hukum alam berbeda dengan selera manusia?
Sebab…
anak panah buatan tradisi manusia semestinya untuk berburu
peluru dan senjata karya modern Iptek
seharusnya menjamin keamanan dan kedamaian kita
2.
Dari pelataran Honay dan rumah kaki seribu
para Tete Moyang diam resah penuh tanya
kepada susu dan rahim Ibu Bumi Papua
“Mengapa kami terlahir di tanah Cendrawasih
Mengapa kami beranak cucu di bumi Kasuari
Apakah ditakdirkan lahir untuk menderita dan mati?”
Dari pucuk pohon hutan belantara
dan puncak bukit gunung menjulang
para leluhur senyap getir galau menggugat
kepada Bapa Penguasa langit angkasa
“Mengapa memberi kelimpahan sumber daya alam untuk ditindas merana
Mengapa anak cucu kami diusir tergusur
demi kekayaan hutan dan mineral Papua
Mengapa duka lara derita ini semakin menjadi-jadi
merenggut harkat martabat dan nyawa kami orang Papua”
Apakah ini misteri dan kehendak-Mu, wahai Sang Pencipta?
3.
Hari ini sedang terjadi
Bocah-bocah dibalut Merah Putih bicara
entah didengarkan atau dibungkam dengan peluru
Anak-anak berseragam putih biru bersuara
apakah dirangkul atau dipaksa bubar bungkam
Generasi muda berpakaian putih abu-abu berdemo
Entah dipedulikan tuntutannya atau dicap pemberontak dan kelompok separatis
“Kami bukan putra-putri pengemis tanpa makanan
Kami tolak program makanan bergizi gratis
Kami butuh pendidikan gratis
Kami rindukan kedamaian dan kasih sayang
bagi hak hidup yang setara sebagai warga negara NKRI
bagi tumbuh kembang yang manusiawi beradab
bagi partisipasi sebagai anak-anak merdeka pewaris NKRI
bagi perlindungan atas hak asazi dari segala bentuk ancaman”
4.
Ketika Fajar menjerit saksikan aneka problema
Luka, sakit, air mata, dan darah mengalir
di kota, kampung, bukit lembah dan hutan Papua
Maka ada fakta pengalaman yang tak bisa disembunyikan
“Katakan benar, jika benar
Katakan salah, jika salah
Jangan ada dusta di antara kita”
Ketika Bintang Kejora menggugat
melerai kabut kelam dan gelap malam
lantaran banyak kebijakan politik berwarna abu-abu
lantaran buntunya kejujuran dalam komunikasi
lantaran kebodohan dan kerakusan merobek harkat martabat kemanusiaan
Maka…
cahaya fajar pagi tak bisa diingkari
Sekarang ada rekam jejak digital
atas hitam putih dan abu-abu fakta
yang melumuri bumi Cendrawasih
dan terus mengotori tanah Kasuari
serta merenggut nasib manusia Papua
5.
Kepada-Mu Sang Pemilik alam semesta
dengarkan jeritan segenap Tete Moyang dan putra-putri Papua
Kepada-Mu Sang Pencipta Maha Adil
jawablah gugatan para leluhur dan anak cucu orang Papua
Karena…
kami sudah kehabisan daya dan akal
untuk bersuara dan menjerit kepada manusia
Karena…
kami kekeringan air mata dan merana jiwa raga
berjuang mencari jawaban harkat martabat kami
Kami merana di tengah kelimpahan kekayaan alam
Kami menderita dan terus duka nestapa
di antara gemerlap harta bumi tanah Papua
“Di mana lagi kami harus mengadu
Ke mana lagi kami harus mencari jawaban
Sampai kapankah balada ini berakhir”

