Simply da Flores
…
1
Detik demi detik nafas
jarum jam merekam jejak kaki
berkelana memburu sosok wajah mimpi
Ada yang di tengah rimba raya
di antara daun kering dan rimbun pepohonan
Ada yang di dusun udik dan kampung
antara jalan setapak dan semak belukar
Ada yang di perut sawah ladang
antara tanaman dan lumpur debu tanah
Ada yang di hamparan pesisir pantai
antara laskar pasir dan buih ombak gelombang
Ada yang di jalan raya berbatu dan aspal
antara desa, pemukiman dan kota
Ada yang di kota Metropolitan
antara trotoar, gedung kaca menjulang dan kawasan kumuh
“Parade jejak-jejak saling menginjak dan menghilangkan”
2.
Jam bersemi mengukir hari berlalu
aku coba menepi di trotoar kota
mencari jejak-jejak langkahku
dalam kisah cerita memoar pribadi
Di kota ini aku terlahir dahulu
tanah tumpah darahku dan terkubur tali pusarku
Ada catatan orangtua dan sanak saudara
tempat aku belajar bernafas dan tumbuh kembang
Mereka menulis mimpi dalam darah dagingku
mereka mengukir rindu damba dalam desir darahku
Aku harus melangkah antara jalan tradisi dan ketakpastian imajinasi
aku ada dan menjadi dalam tanya dan kemungkinan
“Aku adalah takdir semesta
untuk pertemuan orangtua leluhur kemarin dan anak generasi hari esok”
3.
Hari-hari merenda pekan silih berganti
nafas mendesah mencatat langkah umur
Bulan-bulan menenun motif tahun
melukis warna-warni amal karya pribadi
Waktu tak bisa dibohongi bahasa manusia
karena pengalaman lebih luas dari kata dan angka
untuk merangkul fakta dan mimpi insani
Semakin bertambah nafsu menghitung jumlah jejak
ternyata hanya kebodohan yang menemani
Karena sejatinya saat hening sepi
aku lebih perlu introspeksi pribadi
“membaca hitam putih keputusan diri
dalam setiap jejak langkah pilihan
untuk jadi apa dan siapa”
4.
Ketika hidup adalah sebuah ziarah kelana
mengembara memberi makna nafas dan desir darah
Maka…
yang harus dihitung bukan jumlah jejak langkahku
yang perlu disadari bukan seperti apa telapak kakiku
Mungkin…
lebih penting menyadari pilihan
dalam setiap detak jantung
Lebih utama perlu menginsyafi keputusan dalam setiap desah nafas
Waktu menagih kesadaran asali
untuk menjawab pertanyaan kodrati
tentang hakikat diri pribadi
“Saya sudah memutuskan apa saja
saya sudah jadi siapa saja
dalam jejak langkah kelana selama ini
Lalu…
akan jadi apa dan siapakah pribadiku besok
jika masih diberi desah nafas?”

