Simply da Flores
…
1.
Waktu menabur musim silih berganti
Kisah cerita menulis halaman nasib insani
Anak generasi membasuh wajah negeri
saat sakit luka menikam mata
saat lara derita mengiris telinga
saat sedih suka mencincang jiwa
saat raga didera galau sengsara
Entah kepada siapa bicara
Entah ke mana berharap
Entah di mana mendapat makna
dari kata janji dan sumpah mulia
dari para pejabat negera tercinta
2.
Ketika tanah warisan leluhur dicaplok
dengan seribu alasan kata bijaksana
rakyat sahaja tak punya kuasa membela jiwa raga
Ketika alat berat membabat hutan belantara
tempat aneka makanan dan margastwa tersedia
Air mata dan lara derita tak mampu menghentikan
Saat perut bumi dikoyak dan dikuras
oleh para investor untuk aneka bahan tambang
rakyat biasanya digusur dan diusir
dengan aneka cara dan alat
demi keuntungan ekonomi para pemodal
Ketakutan, galau, dan kegelapan jadi sahabat
3.
Dengan sehelai keberanian yang tersisa
demi menjaga nafas yang tersengal
di antara ketakutan dan ketakberdayaan
Ada rakyat yang coba bicara
“Tanah kami, hidup kami
Jangan usir kami dari tanah tumpah darah warisan leluhur
Kami mau merdeka untuk hidup
Bukan mati dijajah oleh bangsa sendiri”
Namun,
sering suaranya tak didengarkan pejabat
banyak yang dicap penghambat pembangunan bangsa
ada yang disebut provokator dan kelompok separatis
Ada pula dianggap gerombolan pengacau keamanan dan teroris
4.
Ketika anak sekolah menyatakan pendapat
saat buruh di-PHK hilang piring nasib
Jawabannya mendapat peluru dan intimidasi
Saat para pelajar, mahasiswa, pekerja berdemonstrasi
sering dihalau aparat dengan senjata
Kalau berbicara melalui media sosial
mungkin dibungkam atau dicari dan diamankan
Suara rakyat yang terluka lara nestapa
banyak kali disebut rekayasa dan ada dalang politiknya
Ketika berjuang mendatangi kantor para pejabat
sering tak gampang bertemu dan bicara
Dan
ketika bisa sampaikan aspirasi dan nasib terluntanya
Biasanya ditampung dan entah kapan dijawab
5.
Ketika rakyat bicara dalam diam
tunduk mencium Ibu bumi pertiwi
mencampur air mata dan debu tanah
Suaranya membangunkan energi hukum alam
Ketika rakyat berteriak dalam hening
menegadah ke angkasa mengadu kepada mentari dan bulan
Teriakan nurani dan sanubari jiwanya
membuka mata semesta melihat
Agar segera datangkan Sang Ratu Adil
menegakkan kebenaran asali hakiki
“Benar itu benar, salah itu salah
Suara rakyat adalah suara Allah”
Hanya Sang Waktu yang memotret fakta dari realitas pengalaman rakyat

