Simply da Flores
…
1.
Saatnya kami bicara
agar kalian sadari fakta sejarah
dari tubuh kaku yang jadi mayat
Waktunya kami perlu cerita
agar kalian tahu yang terjadi
pada jasad saudaramu yang mati
Pergi mengadu nasib meraih mimpi
Tak tahu fakta di negeri orang
karena pendidikan dan ketrampilan minim
karena kemiskinan dan kebutuhan mendesak
Pulang jadi jenazah dalam peti mati
Apa pun upaya keluarga
tak akan mampu hidupkan jasad kaku
tak bisa bangkitkan tubuh bisu di peti
Nasib korban perdagangan orang dan organ tubuh
2.
Ada yang gigih membuat bujuk rayu
masuk dusun udik dan kampung terpencil
Mengabarkan peluang kerja dan janji indah
akan mengubah nasib di negeri orang
Semuanya tersedia dan bisa diatur
Nanti dibiayai semua perjalanan
Keluarga akan terima sejumlah uang
nanti ada pelatihan kerja
nanti mendapat tempat tinggal nyaman
nanti selalu berkomunikasi dan bisa liburan
Maka…
gadis dan pemuda tinggalkan keluarga
Ada harapan dan mimpi indah
mendapat rezeki dan mengubah nasib
Meskipun faktanya pendidikan dan ketrampilan terbatas
Biarpun sering tanpa surat dokumen jelas
Pemberi janji senang meraup banyak uang
3.
Ketika tinggalkan kampung halaman
dengan pengalaman dan pengetahuan minim
Banyak hal baru mulai terjadi
Dokumen mulai diatur dan tercipta
banyak yang identitasnya berubah
Semua diam dan penuh tanya
namun biasanya takut mengatakan
apalagi sering di bawah ancaman
Wajah-wajah baru kini dijumpai
kegiatan baru terpaksa dilakukan
demi bisa makan dan mendapat kerja
Komunikasi semakin sulit dengan keluarga
karena sering alatnya diambil atau digantikan
Kata-kata janji manis dan ancaman terjadi silih berganti
Tak tahu harus mengadu ke mana
karena bertemu orang baru dan ada di tempat tak dikenal
Terpaksa harus melakukan apa pun
demi makan dan membela hidup
Rantai relasi itu senyap dan kuat
Antar tempat singgah dan lintas propinsi
“Angka uang yang jadi bos
lalu para pelaku senyum terbahak
di atas lara nestapa kebodohan korban”
4.
Saatnya lintas negara terjadi
ada aneka jalan ditempuh
yang sudah rapih disiapkan para pelaku
Entah lewat jalur udara
Entah melalui jalur darat
Entah dengan transportasi laut
Para pelaku mengemas dengan rapih dan senyap
bahkan sering didukung oknum aparat
Terkesan semuanya legal dan manusiawi
demi mengentaskan nasib miskin
demi masa depan yang cerah sejahtera
Ada kalimat mimpi dihembuskan
“Hujan batu di negeri sendiri
Hujan emas di negeri orang”
Namun,
faktanya makin mencekam penuh tanya
dirantai lara nestapa dalam bisu
Kampung halaman semakin jauh
Sanak saudara tak mampu dihubungi
Identitas sering sudah berubah
“Para pelaku memanen uang dan kenikmatan
dari semua calon pekerja
yang sudah jadi barang dagangan”
5.
Pengalaman di tempat rantau
memaksa apa pun harus dikerjakan
Entah jadi buruh di perkebunan
Entah buruh harian di pabrik dan jalanan
Entah jadi pembantu rumah tangga
Entah jadi budak seks dan PSK
kalau hamil dipaksa menggugurkan
Bahkan
ada yang dibunuh agar organ tubuhnya diambil
dan dijual
Jika masih ada belas kasihan
jenazah dikembalikan dalam peti tersegel
dengan info mengidap penyakit menular
Namun,
jalannya panjang sesuai identitas
yang tadinya sudah dimanipulasi
“Banyak pihak mencuci tangan
para pelaku saling mempersalahkan
Lalu akhirnya hilang lenyap beritanya
Dan ada pelaku yang seolah menjadi pahlawan
menolong kepulangan peti jenazah”
6.
Ketika kisah cerita peti mati
ditelusuri dan diperjuangkan untuk menyetop sindikat perdagangan orang
Maka …
seribu satu tantangan terus menghadang
karena angka uang lebih menggiurkan
dibanding harkat martabat jiwa raga
Saat para pejuang mau membongkar sindikat
berbagai alasan dan aturan jadi kendala
banyak pihak diam dan mencibir
bahkan bisa membuat sandiwara indah
atas nama HAM dan solidaritas kemanusiaan
Tetapi…
sindikat perdagangan manusia dan organ tubuh
terus berjalan dan marak terjadi
7.
Karena uang dan keserakahan begitu mengiurkan
Ada sederetan tanya solidaritas
Apakah pelaku mempunyai Ibu
adakah saudari dan anak perempuannya
Apakah para pelaku memiliki putra dan saudara lelaki
Di manakah pikiran waras dan nurani jiwa mereka?
Sering terbahak dan dicibir remeh
“Yang penting uang, harta dan kenikmatan
Segala cara pasti kami halalkan”
Deretan peti jenazah masih datang dari rantau
Jasad para korban masih terus diam bisu
Organ tubuh masih diperjual-belikan
Nasib korban tindak pidana perdagangan orang
tetap berjalan senyap rapih marak
Bisnis organ tubuh selalu sedap dijalani
Di manakah hukum dan aturan?
“Apakah Sang Pemilik hidup tak berdaya
atau diam dan membiarkan saja”
Barangkali kecanggihan digital bisa menjawab

