Simply da Flores
…
Lengang sepi di Ibukota
diguyur musim yang terus bersemi
ketika jedah memanjakan telapak kaki
saat libur merawat jemari tangan
Ada perayaan hari keagamaan
umatnya khusuk beribadah merayakan
Ada perayaan tradisi budaya
masyarakatnya mengulas senyum tawa makna
melerai air mata lara derita
Mendung menyepi di trotoar
dan stasiun
Angin dingin sepoi melangkah
menyapa rindu damba hati
Entah jauh di dusun kampung
Jala dan sampan tua menggendong nelayan
Sabit pacul dan keranjang anyaman
masih memeluk penat petani
Dan
Anak-anak negeri berguru
pada pasir pantai dan ombak
Generasi muda pewaris bangsa
belajar di pematang dan periuk lumpur
Lalu menimba jawaban di aliran sungai
Mama Bapa pegiat pasar
menenun nasib keluarga dalam pasrah
karena harga hasil petani nelayan serta tanaman perdagangan ditentukan di dunia maya
Jumpai mendung di trotoar metropolitan
ada pedagang
menyibak hujan yang mengguyur
berkelahi dengan tebaran sampah
kreasi tangan-tangan laknat
Got dan selokan berteriak pedih
disumbat kemalasan dan kepongahan
dari robot-robot zaman yang buas
Banyak yang menanti angkutan
tetapi bukan untuk ke tempat kerja
semua sibuk menari di layar gadget
Para ojek online setia melayani angka nasib
Kutinggalkan mendung menyepi di trotoar
Angkutan menggendong aku berkelana
dalam lengang tak berdesakan
lintasi wajah kota yang basah
Air mata langit
membasuh ratap tangis anak negeri
Yang kirimkan suara ke hati NKRI
tetapi sering suaranya diabaikan
Yang titipkan air mata lara ke hati Jakarta
tetapi sering hilang terbawa angin
Yang panjatkan doa memohon keadilan
namun raib di belantata dunia maya
Mendung nyepi di trotoar
Awan hitam sunyi di langit jiwa
Gemawan coklat membentang di lautan
Pikiran galau berkelahi dengan waktu
nafas serak coba bernyanyi
ikuti irama detak jantung tak pasti
di gemerlap warna-warni metropolitan
Entah mendung masih di trotoar
atau membunuh sepi di angkasa
dan berinkarnasi dalam guyuran hujan

