Simply da Flores
…
Kerikil dendam itu
selalu ada dalam alas sepatu
selalu terasa hingga di ubun-ubun kelana
Duri dendam itu
terus menikam di dalam daging
meradang menusuk desir darah dan desah nafas ziarah
Api dendam itu
Bara yang terbahak dalam jiwa
perlahan menyala dan membakar nurani
Menyala menghanguskan belantata rambut
dan terus berkobar ganas melahap sesama dan apa saja
Senjata dendam itu
berkilau membunuh rasa dan nalar
perlahan tetapi pasti
Tajam mengiris nurani jiwa
dalam diam tetapi sadis ganas
Hingga pribadi kering layu dan mati
dalam iri dengki abadi
Mata dendam itu
hanya bisa melihat satu sosok
kepuasan pembalasan 1001 kali
pada pihak yang diyakini sumber persoalan
Dan diri yang mendendam
percaya mutlak, bahwa itu jalan luhur
serta tujuan paling mulia
Telinga dendam itu
hanya mampu mendengar satu suara
“lampiaskan dendammu dan balaslah hasrat emosimu
itulah jalan pembebasan hakiki”
Dendam itu
Bisa jadi mata air
yang terus memancar dan mengalir
Bisa menciptakan kolam dan sungai
Pasti terus mengalir ke muara
untuk menjumpai samudra jadi asin
Cahaya mentari tak mampu tawarkan asin lautan
Angin dan badai pun tak bisa hentikan ombak gelombang
Mungkin…
Pikiran bisa mengajak angin berkelana
Pada mata air
kesadaran tunduk meneguk segarnya
Pada sungai, muara dan danau
kewarasan bisa membasuh kepicikan dan kebodohan
Pada muara
kerendahan hati dapat mandi dan memaafkan diri
Pada samudra
pribadi dapat berlayar meraih pelabuhan kasih sayang
Angkasa jiwa asali bicara
Dendam hanya terkulai tak berdaya
jika pemiliknya mengetahui siapa dirinya
Langit hati nurani ingatkan
dendam hanya bisa lumpuh dan mati
jika pemiliknya menyadari pribadinya
memiliki keterbatasan dan bisa salah keliru
“Ampunilah musuhmu, seperti engkau pun mau diampuni salahmu
Lakukanlah apa yang engkau harapkan orang lain perbuat kepadamu”

