Simply da Flores
…
1.
Pada mulanya desis desah
tanpa kata tanpa angka
tersenyum berlari terbahak
antara air, angin, tanah dan api
Dan
katanya itu sabda alam
Tak ada yang hadir di sana
tetapi diyakini pasti kebenarannya
lalu diwariskan dari masa ke masa
Inilah komunikasi suci
Inilah tradisi literasi sakral
inilah misteri pengalaman hakiki
2.
Angin berdesah
mengukir wajah debu tanah
Angin berdesis
menulis gelora hamparan air
Lagu dan tarian kehidupan tumbuh
berinkarnasi pesona warna-warni
Maka
jadilah pagi dan petang
jadilah beragam isi alam raya
jadilah kisah cerita beranak-pinak
disarankan kepada para generasi
3.
Irama dan nada
menjelma menjadi lelaki
Syair lagu
berinkarnasi sebagai perempuan
Dan
beranak cucu hadirkan generasi
berbicara dalam aneka bahasa
Ada yang bergema lisan
Ada yang terpatri tanda simbol
Ada tercipta kata dan angka
Terjadilah komunikasi insani
agar bisa saling mengerti
Manusia menenun mosaik jiwa raga
4.
Pada lembaran daun-daun
jiwa raga menggoreskan makna
Pada dinding batu dan kayu
berbagai simbol dipatri nalar
Pada tanah liat dan aneka logam
dipahat suka duka insani
Pada lembaran kertas diwariskan maklumat
Dan
pada layar data digital
jiwa raga coba diterjemahkan
Manusia terus ada dan menjadi
dalam roda perubahan abadi
5.
Yang berkomunikasi dengan isyarat
terhimpit di hutan lara
yang semakin gersang gundul
Yang bertutur tradisi lisan
semakin asing di kampung sendiri
Yang pandai menulis di buku
semakin diabaikan di toko dan pasar loakan
Jemari menari-nari di angkasa maya
berkelana lintas ruang dan makna
mengejar angan dan damba nalar
menjawab haus seribu tanya
6.
Individu menjadi bisu karena gadget dan komputer
semakin bangga menjadi orang asing di antara saudara dan sahabat
Komunikasi dan literasi zaman digital
mungkin cerminan inkarnasi anomali manusia
menjawab hakikat diri di tengah alam
Alam diingkari sebagai Ibu
manusia yakin menjadi data digital
agar bahagia sempurna abadi
7.
Pada kata-kata
banyak manusia membangun menara
Pada angka-angka
orang berbondong melukis wajah
Pada tanda dan simbol
banyak pribadi jadikan panggung sandiwara
Pada warna-warni digital
orang berkomunikasi dan berliterasi
Pada layar dunia maya
jiwa ciptakan Tuhan dan Surga
Udara tersenyum menyusui nafas
Debu tanah tertawa menggendong telapak
karena zaman semakin edan
karena manusia semakin mengingkari dirinya

