Simply da Flores
…
1.
Dalam sunyi sepi abadi
Sang Hyang Empunya berkreasi
terus menyapa kesadaran insani
Kadang menari meliuk gemulai
Kadang lincah bergeliat penuh energi
Siang malam dalam cahaya mentari
juga dalam bulan, bintang dan galaksi
Hening sunyi lestari abadi
dialami nyata sekaligus misteri
Begitu sederhana sekaligus ajaib
Hakikat Sang Maha Ada
Mungkin itu udara dan angin
Mungkin itu air, sungai, danau dan samudra
Mungkin itu angkasa, awan, hujan dan pelangi
Mungkin itu gunung api dan kawah belerang
Mungkin itu debu, lumpur dan tanah
Mungkin juga semua bahasa
Ataukah…
di dalam semua dan melampaui semuanya
2.
Pada mulanya juga udara
Sang Hyang melayang bersama angin
menjelma dalam air dan api
Lalu susul menyusul berinkarnasi
semua isi alam semesta ini
“Jadi, maka jadilah semuanya”
Manusia hidup karena udara
Manusia mati karena alat pernafasan berhenti menghirup udara
Waktu hadir…
pagi, siang, petang dan malam
“Manusia pun tercipta dan diberkati
bisa berkreasi dan berinovasi
terus ada dan menjadi bersejarah”
Udara disadari begitu dekat
sangat penting dan menyatu
sekaligus tak terjangkau nalar manusia
Sang Hyang Maha Udara
sungguh menyatukan dan sekaligus tak tuntas terjangkau
3.
Pengalaman mencatat ajaibnya air
Air di mana pun sumbernya
terus memancar dan mengalir
Air di kolam dan sungai
Air di danau dan samudra
Air di awan dan di langit
Air di dalam diri manusia
Tanpa air, manusia pasti mati
Dalam diam dan kesunyian ajaib
air berinkarnasi senyap lestari
air berubah dan menjelma diam
Air sungguh menyelamatkan
dan sekaligus mematikan manusia
Sang Hyang Pencipta itu air
Air pemberi kehidupan sejati
4.
Sering diam, sepi, sunyi diabaikan
mungkin karena biasa dialami
jadi dianggap biasa-biasa saja
Di angkasa ada awan, hujan dan pelangi
mereka pun datang tanpa kata
mereka pun hadir sunyi sepi
Dan
dalam hening samadhi insani
ketika jiwa menyapa Sang Ilahi
mereka pun bisa bicara
sampaikan pesan dan makna
Rupanya angkasa, awan, hujan dan pelangi
bisa juga menyampaikan banyak pesan
biasa juga maklumat kan makna
Entah…
siapa yang peduli dan mau merekam suaranya
siapa yang damba menangkap maknanya
Mereka tetap diam sunyi hening
5.
Debu, lumpur, tanah itu hal biasa…
mereka diam, sunyi, sepi dan hening
Di bawah telapak kaki manusia
mereka hanya pasrah menerima
entah apa pun yang dilakukan
Dengan tangan dan pikiran insan
mereka pun hanya pasrah diam
tetap sunyi merangkul adanya
Tetapi…
pada gilirannya mereka tegakkan hukum semesta
Debu, lumpur, tanah bertenaga
mampu memberi manfaat positif
juga kembali merenggut nyawa dan raga manusia
“Pada mulanya, manusia tercipta dari debu tanah…
Pada akhirnya, kembali juga ke debu tanah
Dari diam sunyi hening misteri
kepada diam sunyi hening abadi”
6.
Pijar-pijar membara dalam sunyi
tebarkan panas sinar membakar
Gelora menyala dalam diam
kobarkan cahaya dan energi ajaib
Ada api dari langit angkasa
Ada api dari kolam dan lautan
Ada api sunyi dari kawah abadi
Ada pula api hasil kreasi insani
Dan
api hadir dalam diam misteri
api bisa menghidupkan insan
api mampu menghanguskan manusia
“Ada api kasih Ilahi
Ada juga api siksa kekal
Manusia bisa memilih menikmatinya”
7.
Sejarah telah mencatat fakta
manusia memiliki aneka bahasa
Ada yang masih terus digunakan
Ada yang sudah hilang punah
Bahasa untuk komunikasi melukis pengalaman
meskipun bahasa tak mampu merangkul semuanya
Ada bahasa lisan dan tertulis
Ada bahasa digital zaman now
Ada bahasa gaul sehari-hari
Ada bahasa resmi dan ritual
Ada bahasa seni dan sastra
Bahasa memang milik manusia
Termasuk tentang Sang Hyang Empunya
Namun,
dalam kekayaan dan gabungan semua bahasa
tetap tak mampu ungkap tuntas semua pengalaman
“Pada mulanya Sabda – Kata
Sabda berinkarnasi menjadi ciptaan
dan tinggal di antara kita semua
Sabda itu fakta dan sekaligus misteri”
Pengalaman tanpa bahasa
kosong
Bahasa tanpa pengalaman
hampa
Mungkin…
Bahasa manusia tertinggi
adalah diam, sunyi,
hening, tanpa suara
untuk lebih banyak mendengar
bukan untuk berbicara…

