Simply da Flores
Belajar dari Sang Guru
Luka-luka itu memeluk erat tubuhku
Perih pedih sakit membelai rasaku
Dan
aku belajar tersenyum dalam rintihan
Aku bisa tertawa dalam tetesan air mata
Aneh, tapi nyata
pengalaman saat raga terluka dan jiwa merana
Luka mengajak aku kembara berkelana
padahal kakiku sedang tak mampu melangkah
Sakit perih pedih menggandeng tanganku berziarah
padahal ada otot yang memar
ada tulang yang kesleo
dan masih harus berjuang mengobati
Ternyata โฆ
dalam raga yang luka memar
dalam rasa yang perih merana
Pikiranku masih bisa mengembara
membaca tulisan jejak langkah pengalaman kemarin
Hati sanubariku masih dahaga akan arti makna suka duka hidup
Jiwaku yang lapar kasih Ilahi
masih bisa terbang mengetuk pintu Surga
dengan ayat-ayat doa
Aku berbisik dalam heningku
“Aku datang pada-Mu, o, Tuhan
dalam letih lesu dan sakit lara
Berilah aku kelegaan dan sembuhkanlah jiwa ragaku yang sakit
sesuai janji kasih sabda-Mu”
Aku memandang Dia yang penuh luka
di atas ganasnya salib beban dosaku
Tetapi
justru masih bisa mendoakan orang yang menganiaya diri-Nya
“Ya Bapa,
Ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”
Bukan kata-kata, tetapi perbuatan dicontohkan oleh-Nya
Aku malu dan sadar,
bagaimana membandingkan lara derita-Nya sepanjang jalan salib
Apalagi korbankan tubuh darah kudus-Nya bagi penebusan dosa manusia?
Jika kubandingkan dengan luka dan sakitku
Bagaimana aku kan mengerti
arti makna lara deritaku
Apakah aku sanggup membalas kasih setia-Nya
Bisakah aku bersahabat dan mensyukuri salib kehidupanku
“Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang padaku
Katakanlah sepatah kata saja,
maka jiwa ragaku pulih dan sembuh”

