Simply da Flores
Mengejar Rembulan dan Mentari
1.
Bocah-bocah telanjang badan
bergurau berpelukan debu di tengah kampung
Mereka asyik berebutan bintang
yang jatuh bertaburan di lapangan rindu dambanya
Terik meniup ubun mereka dengan gelora harapan hari esok
Keringat halau dahaganya dengan sungai kecil sekitar tubuh
Tak ada cemas tentang esok dan masa depan
2.
Senja datang perlahan menyapa
Anak-anak generasi berbondong ke pantai
Mereka diajar mewarnai hamparan pasir dengan pelangi
Sambil ribuan jejaknya dibasuh buih ombak zaman
dan gelombang mengajari mereka mengejar bulan purnama
3.
Mereka terus berlari bersama angin
dan membuat tangga awan
agar membangun rumah masa depan di angkasa
Lalu
mereka belajar bersahabat dengan planet dan galaksi
Menciptakan negeri impian penuh damai dan warna-warni
4.
Samudra menjanjikan Surga
dan menuliskan dalam sanubari jiwa mereka
Di sana hanya ada taman harmoni dan alunan lagu kasih sayang
Setiap hari bisa membelai cahaya fajar
Tanpa polusi alam
tanpa permusuhan dan perang
tanpa tipu daya dan korupsi
tanpa kerakusan dan tamak
Hanya untuk memperebutkan kata dan angka
5.
Percik-percik fajar melerai gulita
Malam berpamit di tepi pembaringan
Hari baru tiba menyongsong langkah
berkelana nyanyikan syair nafas
setelah raga rehat di pelukan bintang
dan jiwa dipulihkan pesona semesta
Kumandang adzan membelai pendengaran
agar nurani jiwa memeluk Sang Fajar
Dentang lonceng pagi menanti aluran sanubari
untuk daraskan syair syukur
6.
“Terima kasih jantungku
masih dendangkan melodi sujud
Syukur alat pernafasanku
masih berfungsi kumandangkan nada bernyanyi
Dan
ternyata udara alam ini
tak mampu ku bayar sepeser pun”
Satu lagi lembar kehidupan menanti
untuk dituliskan makna amal pribadiku

