Simply da Flores
…
Kemarin ada tulisan menarik
“Ada pendoa yang lupa nama Tuhannya”
Lalu aku tersenyum heran
Apakah memang tidak tahu dan tidak diajarkan
Apakah jarang beribadah sesuai ajaran agamanya
Apakah karena terlalu banyak nama Tuhan ditemui di sosmed
Ataukah
memang pendoa itu tak biasa menyapa Tuhannya dengan nama
Bahkan
Tuhannya menghapus nama-Nya dari ingatan si pendoa
Ada yang didera lara derita
berkubang dalam samudra sengsara
Karena aneka tajamnya problema
hingga tak mampu mengenal dirinya
Sampai tak tahu ke mana bertanya
di mana harus mengadu meminta
mengapa mesti pergi berdoa
Apalagi berbicara dan memohon pada Tuhan Nya
“Apakah terlahir untuk menderita
Ataukah Allah itu Pencipta lara derita”
Seruan dari batas nurani
adalah air mata duka lara insani
ketika kemiskinan menjadi matahari
dan kebodohan menjadi alas kaki
Ketika kerakusan dan gengsi pribadi
menjadi nafas dan darah individu
Dan segala cara dihalalkan
bahkan Tuhan pun jadi objek bisnis
atau serpihan beling di tempat sampah
Seruan dari batas nurani
adalah rintihan jiwa sanubari
ketika sesama menjadi tirani
dan saudara menjadi serigala buas
Dan
Air mata menjadi samudra fakta
Luka mendera raga tak berdaya
Penindasan dan ketidakadilan menjadi lagu dan syair
Dunia menjadi panggung sandiwara
Seruan dari batas nurani
Ketika hati sanubari terkulai
lapar akan kasih sayang sesama
dahaga akan cinta saudara
Entah sesama suku bangsa
Entah umat seiman agama
Entah warga komunitas sosial
Entah rakyat dari satu negara
Entah saudara kemanusiaan semesta
Seruan dari batas nurani
semakin keras lantang menggema
Ketika relasi atas nama kemanusiaan semakin sirna oleh kecanggihan teknologi digital
Ketika harkat martabat dikalahkan uang dan harta
Ketika jati diri dicaplok selera kuasa dan gengsi
Ketika peluru senjata dan narkoba mencabut nyawa
Ketika kepuasan nafsu individu dan kelompok membunuh Sang Pencipta dan merobek-robek isi alam lingkungan
Seruan dari batas nurani
adalah tangisan akhir jiwa sanubari
yang terkulai dalam pribadi
di jagat canggihnya teknologi
Adalah deklarasi revolusi insani
yang sedang membunuh kehidupan
dengan memutlakkan kecanggihan akal pikiran
untuk memuaskan selera nafsu
dan menghalalkan segala cara
Termasuk membunuh diri sendiri
Seruan dari batas nurani
warna warni zaman digital milenial
Manusia menciptakan teknologi
untuk menggantikan dirinya sendiri
lalu menjadi hamba sistem teknologi
dan mati di telapak kecanggihan teknologi
Lalu robot-robot data digital
meraja atas manusia dan alam semesta
Sedangkan
Sang Maha Misteri tersenyum
dalam cinta abadi lestari
dalam kasih sayang hakiki abadi
…

