Simply da Flores
…
Hingar bingar gemerlap politik
sedang gegap gempita mewarnai negeri
Dari kota hingga pelosok tanah air
sedang berkibar ramai bendera parpol
spanduk para caleg, calon DPD
juga gambar pasangan capres-cawapres
Apalagi di sosial media
banjir gelombang informasi politik
tak henti menghampiri setiap pribadi
dengan berbagai wajah dan janji
Saling puji, saling menyerang, saling berlomba janji dan saling membongkar aib
Semuanya dianggap halal demi meraih kemenangan
Tujuan menghalalkan segala cara
Lalu
sempat terbaca pendapat seorang sepuh bangsa
dengan lantang mengatakan pendapat
“Segenap rakyat dan pejabat harus bangkit dan menyadari keadaan serius masalah bangsa dan NKRI saat ini
Kita harus bersatu menyelamatkan Demokrasi dari cengkraman oligarki dan dinasti politik, dengan budaya korupsi dan lemahnya hukum, serta rentetan persoalan multi dimensi”
Namun
ada yang lebih dasyat dan mengharukan
Terdengar bergema berkumandang
Gugatan Perempuan Nusantara
mereka berkata tanpa suara
mereka menggugat dalam diam
mereka berontak atas lara derita
Yang mencengkram jiwa raganya
Yang terluka dan berdarah
Yang lahirkan duka lara nestapa
Yang mendera nafas keluarganya
Yang mendera anak generasinya
Yang hadirkan sejuta tanya
Yang membunuh cinta dan cita
Bahkan
untuk berdoa pun tak berdaya
karena lapar dan dahaga
karena miskin cinta dan papa kasih sayang
Barisan perempuan meratap di tengah sawah ladang
harapkan panenan di musim yang tak menentu
Harga sembako terus melonjak
sedangkan hasil panen tak pasti
dan harganya pun murah di pasar rakyat
Dan
kebutuhan keluarga tak bisa ditunda
Perempuan pedagang kecil di pasar
Bermandi keringat dan air mata
modal usaha terus berkurang
barang dagangan harga melonjak
daya beli konsumen makin lemah
Lalu
bagaimana harus penuhi kebutuhan pribadi dan keluarga
Mereka menggugat nasib tanpa suara dengan sejuta kata
Dari kota ke kota
cerita lara perempuan bergema
Yang kerja jadi buruh pabrik di PHK
Yang jadi pembantu diberhentikan
Yang jadi pekerja hiburan terlantar
Yang menjadi PSK dirazia dan diperas
Yang gelandangan dan pengemis diusir
Yang pemulung pun sering dikejar digusur
Para suami banyak yang menganggur
Upah buruh pun tak menentu
Sedangkan kehidupan kota begitu ganas
dan tawaran aneka selera menggiurkan
dengan harga selangit
Perempuan menggugat dengan air mata tanpa suara
Perempuan Nusantara bangkit
Berdiri menghadap wajah mentari
tetaskan air mata duka lara
Sujud mencium debu tanah
tumpahkan keringat dan darah
Berkelana sepanjang malam gulita
meratapi nasib hidup keluarga
Perempuan Nusantara bersuara
meskipun tanpa spanduk dan bendera
meskipun yang saksi dan mendengarkan
hanya tikar kasur dan bantal
hanya tungku kompor dan api
hanya piring gelas sendok garpu
hanya wajah pasrah anak-anak
hanya ekspresi galau suaminya
Dan
mereka semua mendapat undian nomor satu
tidak ada nomor dua atau tiga
Karena
perempuan adalah ibu generasi
perempuan adalah istri suaminya
perempuan itu saudari kaum lelaki
Dan
ketika perempuan Nusantara menggugat
Perempuan tanyakan hakikat dirinya
Ada deretan tanya yang terkuak
“Masihkah ada surga di telapak kaki ibu
Adakah kasih sayang di rahim perempuan
Apakah ada cinta dan damai di dada perempuan untuk menyusui putra-putri pewaris negeri ini
Lalu
Perempuan meratapi nasib pribadi
Karena
para koruptor, penipu, penyebar hoaks, pelaku aneka kejahatan ekonomi, sosial, politik dan agama
adalah sosok yang dikandung dan dilahirkan dari rahimnya
disususi dan dibesarkan jemari tangannya
diajari kasih sayang dan iman dengan teladan dirinya
Dari mana mereka bisa menjadi pelaku kejahatan ketika sudah dewasa?
Ini salah dan dosa siapa ?
…

