Simply da Flores
…
Bocah-bocah Pewaris NKRI
digerakkan para leluhur dan pahlawan Kusuma Bangsa
untuk mengadakan Musyawarah Akbar
Mereka datang dari seluruh pelosok negeri
Mereka mewakili suku bangsanya
Mereka mewakili adat budayanya
Mereka mewakili agama kepercayaannya
Mereka mewakili pulau tumpah darahnya
Dan
dengan kecanggihan media digital
mereka lakukan kordinasi mengatur agenda musyawarah
Kemudian terbang dengan sayap-sayap mimpi
berkumpul melakukan Musyawarah Akbar
Anak-anak negeri penerus bangsa
Bocah-bocah pewaris NKRI
Hari pertama
mereka berkumpul di monumen Titik Nol Merauke
menulis segala harapan dan damba
untuk diraih hari esok
Mereka jelajahi Tanah Papua
menghibur duka lara Kasuari dan Cendrawasih
karena rumahnya tergusur dan alamnya tercemar
Mereka saksikan selongsong peluru dan tulang para korban
di antara hutan gundul dan bumi yang terkoyak
Antara Merauke, Sorong dan Jayapura
Hari kedua
Mereka singgahi Mentawai, Nias dan Sabang
untuk mengukur jarak Timur dan Barat
wilayah neger Indonesia tercinta
Ternyata pengalaman di Timur dan Barat
Tak banyak perbedaan nasibnya
Alam yang terkuras dan masyarakat yang merana di tengah kelimpahannya
Ada luka derita duka lara
anak-anak penerus bangsa
bocah-bocah Pewaris NKRI
Mereka bermain bercanda ria bersama
“Saling menghibur dengan kegalauan dan air mata
dengan gaya anak digital milenial”
Hari ketiga
Mereka singgahi Tenggarong dan Mianggas
Saksikan batas Utara Nusantara
Melihat wajah hutan dan lautan biru
Nikmati keindahan cahaya khatulistiwa
Dengarkan keluh kesah para orangtua
yang sedang galau tak berdaya
menenun masa depan anak cucu
“Mereka cemas dan ketakutan
saksikan aneka informasi medsos
tetapi tak paham menghadapi gelombang perubahan
Yang pasti menggilas generasi pewarisnya
Dan tak tahu kemana berharap
serta bagaimana menjamin anak cucu”
Hari keempat
Mereka ke Rote dan Nusa Penida
Saksikan batas selatan tanah air
Ombak laut selatan terus membawa sampah plastik
Entah dari mana datangnya
Dan di sana pun tak ada batas pagar
sehingga gampang diserobot orang luar
Sabuk pengaman negeri tercinta
kurang menjadi perhatian pembangunan
Para petani dan nelayan menjerit
dan tak tahu kepada siapa mengadu
“Mereka pun merana di tengah kelimpahan tanah airnya
karena sudah biasa diabaikan”
Hari kelima
Para bocah terbang bertamasya
Dari pulau Bali dan lintas Jawa
Saksikan keindahan kemajuan modernisasi
dan melihat padatnya pemukiman warga
Menonton penganggur, gelandangan dan pengemis
mengagumi aneka sarana hasil pembangunan
Dan
berkumpul bermain di pelataran Monas
rasakan gemerlap ibukota Metropolitan
Kunjungi istana merdeka dan Senayan
berjumpa Presiden serta para wakil rakyat
Lalu
pergi menutup musyawarah di IKN Nusantara
Hasil musyawarah diumumkan kepada para awak media
agar bisa dipublikasi dan diketahui:
Kami anak-anak negeri penerus bangsa
Berterimakasih kepada segenap orangtua dan leluhur
karena sudah terlahir di tanah air ini
Berterimakasih dan sungguh prihatin
atas kekayaan alam yang terkuras merana
Kami bocah-bocah Pewaris NKRI
Berbangga atas warisan kemerdekaan
dan bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa
Bertanya kepada segenap pemimpin
mengapa begini nasib NKRI
Kenapa KKN diajarkan diwariskan untuk kami
Dimanakah kewarasan pikiranmu, kebeningan hati nurani dan ketulusan jiwa sanubarimu
Kami anak-anak negeri penerus bangsa
Kami bocah-bocah Pewaris NKRI
Sujud memohon kepada Sang Hyang Pencipta
Selamatkan bangsa dan NKRI tercinta
Tuntunlah semua orangtua dan para pemimpin bangsa
Agar segera waraskan pikiran
Agar segera perbaiki hati nurani
Agar segera bertobat pulihkan jiwa sanubari
Lalu
Membangun bangsa dan NKRI tercinta
“Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya”
Siapkan masa depan kami anak cucu
dengan keadilan dan kebijaksanaan
Bukan dengan budaya KKN
agar jalan meraih Indonesia Emas
terbuka lebar dan diberkahi
Dari Ibukota Nusantara
kami rindu dan dambakan damai
kami mau saksikan zamrud khatulistiwa
kami mau alami mercusuar dunia
kami harapkan gemah ripah loh jinawi
dalam Negara dan bangsa Indonesia
“Hiduplah Indonesia Raya
Bangsa bermartabat
Negara berdaulat adil makmur
Merdeka dan jayalah selalu”
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

