Simply da Flores
…
Buku suci agama menceritakan Surga
dan para tokoh membagikan kepada segenap pengikutnya
Harapan akan sesuatu yang abadi membahagiakan nanti di sana
dan sungguh diimani dengan taqwa
bahkan sering tak berani ditanyakan karena sakral bahkan tabu
Sedangkan
mereka yang membagikan cerita Surga pun belum pernah ke sana
Sudah terjadi bertahun-tahun dan berabad
hingga zaman ini mulai diperbincangkan dan diperdebatkan di media sosial
Pernah kudengar obrolan seorang sadhaguru dan ilmuwan di media sosial tentang Surga
Dan
ada pertanyaan menarik serta menggelitik
“Jika Surga itu tempat dan keadaan yang paling sempurna membahagiakan, lalu kenyataan dunia ini begitu buruk serta tidak sempurna, lalu pewarta agama sudah tahu tempatnya dan jalan ke Surga, mengapa tidak segera pergi ke sana?
Apakah kehidupan yang nyata sekarang cuma ilusi dan tidak ada Surga?”
Lalu,
saya pun tergelitik berpikir dan menggugat diri
“Bagaimana menyadari Surgaku dan belajar mensyukuri fakta kehidupan yang ada sekarang?
Kulihat anak-anak asyik bermain
bahkan berbeda asal dan bahasa
Dalam kepolosan dan kesahajaan
ada sukacita dan tanpa polemik
meskipun kadang saling berkelahi karena rebutan jajan dan mainan
“Jadilah seperti anak-anak yang polos, karena mereka adalah pemilik Surga yang nyata sekarang
Balita merayakan Surga setiap hari”
Ada nelayan berkelana sepanjang malam memeluk samudra
pulang pagi membawa aneka ikan
Dan para petani membawa hasil panenan kebun
Mereka bertemu di pasir pantai
di sana ada barter hasil kerja
Dan
beberapa berkumpul rayakan Surga
Nikmati rezeki dari laut dan kebun ladang
setelah itu pulang membawa berkah untuk keluarga masing-masing di rumah tangga
Pada buruh dan pegawai
pergi pagi hari tinggalkan keluarga
dan nanti pulang senja dan malam
Ada yang pergi senja dan bekerja sepanjang malam lalu pulang pagi
Perjuangan mengucurkan keringat dan menguras tenaga
agar nyalakan senyum dan sukacita di tengah keluarga
Mereka rayakan Surga siang malam dalam sahaja penuh perjuangan
Dalam gemerlap lampu warna-warni
dan dentuman musik bergema
Anak-anak remaja dan dewasa
tak kenal laki maupun perempuan
Di tempat hiburan desa dan kota
terus ada pesta pora merayakan Surga
Segala damba dan hasrat berpadu
pertemukan kebutuhan dan kepentingan
terus terjadi siang dan malam
Meskipun sering dinilai maksiat dan dosa
Tetapi tak pernah berhenti dan hilang
Mereka merayakan Surga di bumi
Di rumah dingin dan gedung megah
kantor bisnis dan pemerintahan
Ada para pebisnis dan pejabat
menjalankan peran dan kewenangan mereka
Dari sana lahir berbagai keputusan serta aturan
Mereka tersenyum, tertawa terbahak, bersalaman dan berpelukan serta berpesta gembira
Ada perayaan surga atas keberhasilan dalam perannya
Di pinggir jalan dan trotoar
juga di got dan tempat sampah
para pemulung berjibaku mengais rezeki
Sambil bertegur sapa bahkan bercanda ria
Ketika nongkrong di warung kopi atau berteduh di taman kota
Ada senyum tawa dan ekspresi syukur
karena masih ada rezeki hari ini
Karena bisa temukan surga di tong sampah, got dan emperan gedung megah
Anak-anak sekolah berseragam
penuh semangat mengejar ilmu dan ketrampilan
meskipun kurikulum sering diganti
Masih sempat merayakan surga dengan gadget dan aneka game kesukaan
Sementara mahasiswa pun bisa merayakan surga dengan berdemo dan belajar nikmati narkoba serta seks bebas
Di sana mereka temukan surga
yang melerai kegamangan dan kelaparan jiwa serta dahaga nurani tentang masa depan
Di media sosial zaman milenial
ada samudra informasi digital
menawarkan aneka selera dan kepentingan
Langsung ke setiap pribadi manusia
tak peduli umur tua dan muda
tak terbatas ruang dan waktu
Ada perayaan surga di layar digital
dan setiap orang bebas memilihnya
“Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam Surga”
Di tempat suci agama
terus berlangsung ibadah dan aneka kegiatan kerohanian untuk mengajarkan taqwa dan iman demi memperoleh pahala surga di sana
Di tempat sakral ritual adat budaya
juga masih dilakukan berbagai sesaji sembah
agar bisa mendatangkan berkah dan jawaban bagi rindu damba sorga
serta aneka jawaban pasti bagi aneka kebutuhan hidup dan atasi aneka problema
Ternyata satu kata “surga” itu
dipahami dan dimaknai dengan aneka arti
Lalu menjelma dalam berbagai kata dan kalimat
berinkarnasi dalam bermacam pilihan tindakan oleh pribadi, kelompok dan organisasi
Perayaan surga di atas bumi dalam aneka pilihan dan keputusan
Hanya para perempuan yang tahu pasti apa itu surga
karena “surga di telapak kaki ibu”
Dan
“Anak-anak adalah pemilik kerajaan sorga, karena kepolosan dan kesahajaan mereka”
…

