4.
Senja Keempat
Ada sejumlah panorama baru
Di pemukiman modern dan kota
para pemilik kuasa dan modal
sedang tertawa terbahak
sambil nikmati aneka hidangan
“hari ini kita makan siapa dan dapat berapa duit”
Di beberapa lokasi indah
Entah di puncak bukit yang strategis
Entah di bibir pantai dan pulau kecil
para wisatawan berjemur dan nikmati senja
Berpesta pora karena kaya raya
Jurang kaya dan miskin semakin lebar
Jarak kelas sosial semakin jauh
Kemiskinan semakin mendera masyarakat sederhana
Ombak gelombang abrasi semakin keras
Erosi, polusi air dan udara bertambah
Krisis alam dan lingkungan berlanjut
Senja indah hanya milik segelintir orang yang berkuasa dan berduit
tanpa hati dan jiwa
5.
Senja Kelima
Hingar bingar kota terus bergelora
Para penguasa dan pemodal
terus bergaya dan berpesta pora
Sandiwara tetap dipertontonkan
Kata-kata janji terus disebarkan
Aturan dan kebijakan terus diproduksi untuk pertahanan kuasa jabatan dan memperbesar keuntungan
“Perkawinan strategis kekuasaan politik dan keuntungan bisnis”
Media terus produksi informasi
karena sudah bisa dibeli
bahkan milik penguasa dan pemodal
Para buruh dibakar terik
dan dicengkram gulita demi nasib keluarga
Desah nafas diburu kewajiban
Detak jantung dipaksa keadaan
Bahkan
jika berdemo perjuangkan nasib
malahan PHK dan hilang pekerjaan
Pengangguran dan nasib buruh
merana mengiringi senja
berkelana dalam gulita malam
6.
Senja Keenam
Warna-warni aneka bendera
Diarak dari gunung dan lembah
dipawai dari dusun dan kota
dikibarkan dari hutan dan padang
Semua menuju hamparan pasir pantai
dan berbaris penuh kebingungan
Karena semuanya kemarin bersaudara
tetapi sekarang adalah musuh
untuk berperang merebut kemenangan
Entah sesama dalam satu
parpol
Entah sahabat antar parpol
Pesta demokrasi sedang digelar
Musik aneka jenis diputar bergema
Lenggang lenggok aneka gaya dimainkan
Oleh para pakar politik dan para pemilik modal
Karena mereka pemilik pesta demokrasi
Karena mereka pembuat sistem dan aturannya
Karena mereka pemilik parpol
Karena mereka yang memiliki kewenangan, senjata dan modal
Rakyat hanya boneka yang dipermainkan
Rakyat adalah wayang di tangan dalangnya
Seperti Pesta Demokrasi
juga ada tuan pemiliknya
7.
Senja Ketujuh
Beberapa pejabat dan pemodal
duduk bicara sangat serius
ada yang di ruang tertutup
ada yang di tempat rahasia
mengatur strategi dan dana
Untuk mempertahankan tahta kekuasaan
Untuk memiliki harta kekayaan
Untuk mengatur semua cara dan taktik canggih mandraguna
Sehingga
mereka tetap meraih kemenangan
dan pertahankan kekuasaan
Di ujung senja sunyi senyap
mereka datangi tempat keramat
melakukan ritual dan sesajen
Mereka pergi menghadap Ratu Samudra
serahkan korban dan permohonan
dengan kerahkan para tokoh spiritual
dan melibatkan dukun sakti mandraguna
Agar bisa membungkam lawan politik
Agar mampu membius masyarakat
Sehingga
Menang dalam Pesta Demokrasi
Lalu
menduduki jabatan politik
dan tahta kekuasaan NKRI
dan bersama para pemilik modal
bisa mengeksploitasi sumber daya alam negeri ini
dan sumber daya manusia bangsa ini
Senja berlalu dalam misteri
antara kenyataan dan harapan
antara kebenaran dan kepalsuan
antara harkat martabat dan gengsi keserakahan
antara kata-kata dan pelaksanaan
antara demokrasi, monarkhi dan dinasti
Hanya doa sahaja penuh iman
dan kewarasan nalar serta kebeningan nurani
dapat memampukan kita mengagumi senja
dan mengikuti waktu hidup
…

