Simply da Flores
…
Sambil meneguk kopi panasku
Angin tersenyum sepoi berhembus
menemani langkah cahaya mentari
Menyusuri lorong galau sanubari
yang terbius pesta demokrasi
dan lenggang lenggok penari seksi
Entah dalam ruangan ber-ac
Entah di tengah ramai metropolitan
Entah di aula gedung pertemuan
Entah di kantor partai politik
Entah di rumah adat budaya
Entah di tempat-tempat keagamaan
Entah di tanah lapang dan padang
Entah di warung kopi dan restoran
Entah di rumah reot keluarga
Entah di kebun ladang dan tempat kerja
Ternyata
Kopi selalu ikut hadir di sana
Sambil seruput nikmat setiap teguk
Kusapa hitam misteri kopi pengalaman
Kusalami pahit kenikmatan makna kehidupan
Lalu aku bercerita, tanya dan kekaguman pada kopiku
“Wahai Kopi
Engkau komplit makna dan misteri
Ada tanya dan jawaban
dalam hitammu aku berkelana
menerjang angkasa meraih makna,
Aku berziarah menyibak samudra menjala cinta
Dan
Engkau kopi
tetap hitam dan pahit
kecuali ada campuran gula
atau ditambah susu dan madu
Kopi
Engkau emang hitam dan pahit
dari sananya ya begitu
Kecuali yang pandai menggoreng dan meracik
pasti bisa dapatkan manismu
tetapi aku heran padamu
Biarpun engkau hitam pahit
tetap menjadi sahabat setia banyak orang
terus menjadi kawan sejati sepanjang sejarah
Entah kenapa begitu menggoda
Hanya penikmat kopi
yang tahu jawabannya
Entah apa yang merasuki semuanya
Wahai Kopi
Ingin kusebut pesta demokrasi yang terjadi
adalah ‘kopi politik’
Meskipun hitam dan pahit
tetapi sangat banyak yang menyukai
bahkan memilih sebagai profesi
Lalu mempertaruhkan segala daya tenaga
Mengorbankan harta dan nyawa
demi meneguk dan memiliki kenikmatanmu
Dalam pesta demokrasi
Ada aneka musik gemuruh berdentum
yang menari pun lenggang lenggok
sesuai gaya dan selera pribadi
Meskipun banyak juga yang tak mengerti
tetapi terbius dan ikut ramai
Lalu kopi selalu hadir menemani
aneka minuman dan makanan
beragam jamuan kata dan hidangan janji
Maka
kusebut saja pesona nikmat
Kopi Politik Pesta Demokrasi
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

