Simply da Flores
…
Pikiran dikuras dan peras
agar temukan segala cara
agar mampu merangkai kata
agar bisa miliki semua sarana
agar cerdas mempengaruhi sesama
agar bisa miliki senjata dan uang
agar hebat mengelola media iptek
Sehingga
mampu meraih kemenangan politik
Entah di tingkat daerah
Entah di tingkat pusat
Entah eksekutif atau legislatif
Kata ‘menang’ lawannya ‘kalah’
Dihasilkan oleh sebuah sistem
yang dilengkapi aturan mainnya
oleh mereka yang berwenang
dan sekaligus akan bertanding
Memperebutkan kursi jabatan kekuasaan
Dan
mereka sama-sama tahu
bagaimana kelemahan sistem aturannya
untuk bisa digunakan dan dilanggar
“demi meraih kemenangan politik”
Maka,
semua penghalang harus disingkirkan
Aku heran dan terus bertanya
Mengapa demi kemenangan politik itu
segala cara bisa digunakan
semua usaha mau dilakukan
Entah cara santun dan etis
Entah penuh bijaksana bermoral
Entah dengan doa dan ritual
Entah atas nama adat budaya
Entah dengan nama Allah dan agama
Entah dengan tipu muslihat
Entah dengan hoaks dan janji palsu
Entah dengan saling mencaci maki
Entah saling perang dan membunuh
Apa pun berani dilakukan semua
“demi meraih kemenangan politik”
Katanya bahwa yang abadi itu
adalah demi amankan kepentingan
Kepentingan tahta kekuasaan politik
Kepentingan menumpuk harta kekayaan
Kepentingan gengsi dan kepuasan
Ketika segalanya demi kemenangan
Maka mata jiwa semakin rabun
Maka mata nurani warna warni
Maka mata rasa campur sari
Maka mata raga genit jelalatan
Karena
Mata nalar meramu sejuta cara
agar bisa kalahkan semua lawan
agar mampu kelola segala sarana
agar cerdik cerdas kuasai aturan
agar piawai membaca perubahan
agar kampiun melancarkan serangan
agar profesional merangkai kata
agar bisa kuasai semua rakyat
Demi meraih kemenangan politik
Bahkan demi nama Allah
dan bisa membunuh sesama
Demi meraih kemenangan politik
Aneka media terus digunakan
sarana informasi digital dimanfaatkan
Gelombang informasi semakin deras
menghempas ruang pikiran masyarakat
sehingga nurani jiwa diterjang
agar bisa tak berdaya dan dikuasai
Para pemimpin adat budaya direbut
oleh putra-putrinya sendiri
dari kubu aneka partai politik
Para tokoh agama dan keyakinan
terus didekati dan dipengaruhi
untuk ikut mengatur umatnya
Para cerdik pandai dikerahkan
agar meramu seribu strategi
dan menyusun berbagai metode canggih
Dan
Rakyat di berbagai tempatnya
diserbu dan dirayu untuk percaya
dengan aneka janji dan sarana
untuk memberikan dukungan suara politik
Meski pun mereka terus kebingungan
Segalanya demi kemenangan politik
Kawan bisa menjadi lawan
Musuh bisa menjadi sahabat
Keluarga bisa pecah belah
Adat budaya bisa diperebutkan
Agama dan kepercayaan dimanfaatkan
Sang Pencipta dan nama Allah
dijadikan alat dan sarana hoaks
Uang dan senjata jadi kekuatan
diyakini mampu melakukan semua
Dan
masyarakat pun semakin cerdik cerdas
untuk memperdagangkan hak suaranya
Negara dan bangsa Indonesia
telah menjadi ajang pertarungan
untuk kemenangan demi kepentingan
Inikah demokrasi?
…

