Simply da Flores
…
Seribu mata air dari puncak gunung
titipkan kebeningan sanubari
Sejuta butir hujan dari langit
amanatkan kejernihan hati nurani
Ratusan kolam terus menampung
lahirkan anak sungai berlari
berlomba berkelana meraih bengawan
Berziarah mengukir siang malam
sampai ke muara dan lautan
Silih berganti di Bengawan Solo
juga aneka sungai di mana mana
Waktu bergerak hari berganti
Perubahan itu lestari abadi
Sejarah terus ditulis anak generasi
Ratusan tahun yang lalu
Bengawan Solo berwajah alami
kisah cerita Tempo Doeloe
Lalu zaman keraton dan kompeni
ajari aneka strategi kekuasaan
dengan warna-warni kerakusan
dibungkus kata manis tatakrama
dan aneka KKN gaya klasik
Semua dicatat aliran Bengawan Solo
entah mengendap ke dasar sungai
entah tersangkut di tepi pinggiran
entah ke muara dan lautan luas
Sampah zaman pun berbeda-beda
Saat musim hujan dan kemarau
Dulu hanya kayu dan dedaunan kering
Kini semakin beraneka rupa
Sampah plastik dari keluarga
Sisa limbah berbusa dari pabrik
Tinja dan botol mercuri kelicikan
Kemasan korupsi dan kolusi
macam ragam kata janji politik
Topeng-topeng agama dan adat budaya
Sisa bahan bakar kesombongan
Polusi dan pencemaran harkat
Membaur menjadi keroncong zaman
Alunan keroncong Bengawan Solo
terus bergema sampai ke seluruh dunia
Gesang tersenyum dan kebingungan
karena syairnya sudah usang
tak sesuai kenyataan zaman kini
Soeharto punya lagu Bengawan Solo
dengan syair Orde Baru
Jokowi juga ciptakan keroncong
dengan syair yang berbeda
tentang wajah Bengawan Solo
Gibran dan Kaesang tak kalah
mereka punya lagu sendiri
genre campur sari dan disco
syairnya pun tentang Bengawan Solo
untuk anak zaman milenial
Dan
semua pemirsa menjadi heran
dan beragam komen di medsos
dengan selera pikiran pribadi
“Ada madzab politik Bengawan Solo”
Maklumat Bengawan Solo berkumandang
Alam punya hukum sendiri
Musim terus silih berganti
mencatat semua kisah cerita
Manusia berlari meraih hasrat diri
dengan seribu satu caranya
Namun
ada yang tak mampu diubah
yakni fakta ketergantungan alami
insani
pada seluruh isi jagat semesta
Dan
Waktu akan menunjukkan semuanya
“apa yang benar itu benar
apa yang salah itu salah”
Manusia akan kembali ke asali
dari debu tanah datangnya
pada debu tanah kehidupannya
kepada debu tanah pulangnya
Mata Pencipta tak bisa dibohongi
Jemari Ilahi merangkul nafas
dan menggendong desir darah
Manusia tak bisa bersembunyi
Lalu
Ebiet memetik gitar mengingatkan
“Kita mesti telanjang….”
…

