Simply da Flores
…
Mentari pagi biaskan cahaya
bangunkan insan dari pelukan malam
Satu hari baru lagi terjadi
melukis kisah menulis cerita realita
Antara fakta dan misteri
bagi dinamika ziarah manusia
Angin semilir membawa Srikandi Penjelajah
dari laut selatan ke Tugu Proklamasi
Aku sudah menantinya di bangku pelataran
Pagi yang cerah disambut nyanyian burung dan tarian dedaunan hijau
Saat hendak berangkat dari Tugu Proklamasi
Srikandi Penjelajah sempat berucap lirih
“Dahulu aku membaca di buku saat sekolah
Lalu sempat melihat di publikasi medsos
Namun belum pernah berkunjung ke semua tempat tersebut
Hari ini baru bisa berkunjung dan akan menjejakkan telapak rinduku meraih maknanya”
2.
Taman Suropati
Di taman yang sejuk dan asri ini
kami berkeliling dan menikmati indahnya bunga dan tanaman
Banyak orang datang ke sini
para penjual jajan dan minuman sibuk
Sering menjadi tempat olahraga dan kegiatan kesenian
Satu simpul paru-paru Metropolitan
Saat duduk di bangku pelataran
Sang Srikandi berujar ungkapkan kesan
“Saya kagum dengan sejuk dan rapinya taman ini
Namun secara khusus tertarik
dengan ukiran patung sosok perempuan
yang tegak dipajang di pojok sana
Sepertinya itu potret nasib perempuan bangsa ini
yang diam terpasung nasibnya
yang merana terbelenggu harkat martabatnya
Harkat martabat bangsa dan negara ini
akan menjadi agung dan mulia
bisa meraih cita-cita Proklamasi
Jika bisa menyadari dan menghargai perempuan sebagai Ibu
Jika mampu menghormati dan menjamin hak-hak perempuan dan anak
Sebab, menjamin hak seorang laki-laki
adalah mengurus satu pribadi
tetapi
menjamin hak seorang perempuan dan anak-anak
adalah mengurus kelanjutan sebuah keluarga dan bangsa”
3.
Masjid Istiqlal dan Kathedral
Setelah mengunjungi dua tempat ibadah
Masjid Istiqlal dan Gereja Kathedral
kami rehat sejenak di bangku pinggir jalanan
Kendaraan ramai di siang hari
Warga hilir mudik mengejar roda waktu
setiap pribadi berjibaku berjuang meraih harapan
Rutinitas irama kehidupan Metropolitan
Sambil menikmati es kelapa segar
Srikandi Penjelajah ungkapkan isi hati
“Luar biasa kedua bangunan rohani
Doa sujud iman umat terus bersemi
Ada ikatan tali silahturahmi toleransi
Terowongan harmoni terpatri jadi saksi
Ada Bunda Maria Segala Suku Bangsa Nusantara
Ada Rosario Merah Putih
Ada relasi kasih persaudaraan
yang terus dirawat dan bersemi indah
Banggaku atas bangsa Indonesia
Syukur kepada Allah Sang Maha Pencipta”
4.
Mengagumi Istana Merdeka
Di tengah hari yang terik menyengat
Kami melintasi jalan
di depan Istana Merdeka
yang siaga dijaga petugas keamanan
Gedung bercat putih dan megah
Disemat wajahnya dengan lambang Garuda
dan Sang Saka Merah Putih berkibar
Menjelang HUT ke-79 Kemerdekaan NKRI
Dan
di gedung ini tetap tercatat juga
sejarah peninggalan para penguasa kolonial
“Setelah mengusir para penjajah asing kita memasuki gerbang kemerdekaan NKRI
Namun
lahir dan beranak pinak sudah
para penjajah dari saudara sebangsa
Di balik gedung bercat putih megah
Lambang burung Garuda dirantai
sayapnya patah buluh berguguran
Pancasila dipasung dan dimutilasi
hanya menjadi slogan tanpa makna
Korupsi menjadi budaya yang dibanggakan”
…
(bersambung)

